
Penulis: Sri Surya
Menolong sesama pada hakikatnya adalah panggilan kemanusiaan yang melekat pada setiap orang.
Wujudnya bisa berbeda-beda, menyesuaikan dengan kebutuhan mereka yang sedang membutuhkan uluran tangan.
Di bidang hukum, pertolongan menjadi semakin penting, sebab masih banyak masyarakat kecil yang membutuhkan pendampingan yang adil, berpihak, dan mampu melindungi hak-hak mereka secara bermartabat.
Hal ini juga menjadi perhatian Fillya Brenda Shahnas Pondaag, dimana baginya, hidup bukan hanya tentang meraih pencapaian pribadi, tetapi tentang bagaimana setiap proses dapat dimaknai sebagai kesempatan untuk bertumbuh dan memberi manfaat bagi orang lain.
Perempuan yang akrab disapa Filly ini meyakini bahwa setiap orang memiliki talenta yang tidak sekadar untuk dibanggakan, melainkan untuk dibagikan.
Sebagai seorang pengacara, Filly memandang profesinya lebih dari sekadar pekerjaan. Baginya, hukum adalah ruang untuk menghadirkan empati, keberanian, dan keberpihakan pada keadilan.
Ia percaya bahwa keahlian yang dimiliki seseorang akan menjadi bernilai ketika mampu membantu mereka yang membutuhkan, terlebih bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap pendampingan hukum.
Di tengah kesibukan profesinya, Filly berusaha menjaga keseimbangan hidup dengan melakukan hal-hal sederhana yang ia sukai, seperti bermain basket, membaca, dan jogging.
Aktivitas tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan fisik dan ketenangan pikiran adalah bekal penting untuk tetap bertahan dalam ritme kehidupan yang tidak selalu mudah.
Filly memegang teguh sebuah prinsip hidup yang terus membimbing langkahnya. Ia percaya bahwa jatuh bangun adalah bagian alami dari perjalanan manusia.
“Jatuh bangun dalam hidup adalah hal manusiawi karena sesungguhnya hidup itu adalah belajar setiap hari, dan bantu orang sebanyak mungkin dengan titipan talenta dari Tuhan,” ujarnya.
Nilai tersebut ia pelajari dari orang tuanya, yang menanamkan keyakinan bahwa setiap kemampuan adalah amanah yang semestinya memberi dampak baik bagi lingkungan sekitar.
Baginya, keberhasilan tidak hanya diukur dari apa yang berhasil diraih, tetapi juga dari seberapa banyak orang yang dapat merasakan manfaat dari talenta yang dimiliki.
Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam perjalanan kariernya terjadi ketika ia mendampingi seorang klien yang memiliki keterbatasan finansial.
Meski tidak mampu memberikan imbalan sebagaimana mestinya, klien tersebut menyampaikan rasa terima kasih yang tulus dan menitipkan doa untuk kehidupan serta pekerjaan Filly.
“Mereka mungkin tidak bisa membalas dengan materi, tetapi doa yang mereka sampaikan menjadi pengingat bahwa pekerjaan ini bukan semata soal hasil, melainkan tentang arti kehadiran bagi orang lain,” ungkapnya.

Bagi Filly, pengalaman tersebut mengajarkan bahwa ketulusan sering kali menghadirkan kekuatan yang tidak selalu terlihat, tetapi mampu memberi makna mendalam dalam perjalanan hidup seseorang.
