Nasional

Evaluasi Tiga Bulan DPR: PKS Paling Efektif, Golkar Kuasai Isu


Untuk kategori ini, PDI Perjuangan menyusul di belakang Partai Golkar.

Kader PDI Perjuangan di DPR menyumbang 1.099 publikasi atau 19.02%.

Partai Gerindra menyumbang 956 publikasi atau 16.54%.

Menurut Peneliti Senior INSIS, Dian Permata, PKS mampu mampu memanfaatkan dan mendistribusikan setiap isu atau tema yang tengah hangat menjadi bahan perdebatan di ruang parlemen kepada kadernya di DPR.

Partai Golkar mampu memanfaatkan semua isu atau tema yang hangat menjadi bahan perdebatan di ruang parlemen di DPR.

PKS mampu mengkapitalisasi anggota DPRnya dengan mendistribusikan setiap isu. Sedangkan Golkar mampu mengkapitaliasi setiap isu. Perbedaan pada unit analisa aktor (anggota DPR,red). Jika kita Analisa lebih mendalam maka Partai Golkar di DPR seperti terkonsentrasi disejumlah elit untuk urusan citra dan publikasi isu,” kata Dian.

Untuk itu, saran Dian yang juga menjadi Tim Pakar UU Pemilu No 7/2017, partai politik mulai memikirkan serta mendistribusikan kader mereka di DPR dengan isu kekhasan atau keunikan masing-masing.

Baik itu di komisi ataupun di kelembagaan partai politik.

Sebagai contoh, PDI Perjuangan dengan mendelegasikan kepada Arif Wibowo sebagai representasi jika bicara tentang isu kepemiluan.

Atau seperti Nihayatul Wafiroh di PKB yang bicara tentang seputar BPJS.

“Ini penting. Karena publik akan melihat kedalaman isu seseorang anggota DPR itu melalui text atau konten yang dikuasai. Dengan begitu, jurnalis dengan sendirinya mendatangi seorang anggota DPR tersebut karena penguasaan isu tertentu. Jangan sampai hanya tahu isu tapi lemah isi. Jadi sekadar bunyi di media. Jika pakai term millennial, jangan mengeluarkan komentar receh,” tambahnya.

Peneliti INSIS Wildan Hakim menegaskan, data-data kuantitatif yang disajikan INSIS bisa menjadi bahan evaluasi penting bagi seluruh fungsionaris partai politik yang kini memiliki kursi di Senayan.

Menurut Wildan Hakim, memahami isu-isu yang berkembang menjadi modal penting bagi seluruh politikus untuk bisa unjuk diri melalui komentar mereka di media.

Publik dan konstituen melihat keterkenalan politikus Senayan dari kemunculan mereka di media massa.

“Sederhananya, salah satu kinerja politikus Senayan itu dilihat dari opini atau komentar mereka yang dikutip media massa. Di sini, kemampuan mengomentari isu secara proporsional harus diperhatikan oleh semua politikus. Jangan sampai asal berkomentar tapi dianggap tidak relevan dengan isu yang sedang dikomentari,” pungkas Wildan Hakim.

Riset ini menggunakan tehnik media monitoring.

Ada enam (6) media massa yang dijadikan basis data riset.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara