
Manado – Ribuan anak sekolah nampak berkumpul bersama orang tuanya di 2 gedung olah raga yang terletak di daerah Sario. Mereka ditemani orang tuanya nampak antusias mendengarkan orasi Elly Lasut. Sesekali terdengar tepuk tangan membahana di dalam gedung. Demikian sekilas suasana pertemuan calon gubernur Sulut, Elly Lasut pada beberapa hari yang lalu.
Pagi ini (16/11) ribuan anak sekolah yang datang dari tingkat SD, SMP dan SMU berbondong-bondong menuju kawasan Boulevard Manado. Ditemani para guru mereka nampak antusias menghadiri acara “Semua Harus Sekolah”.
Ya, SHS singkatan dari semua harus sekolah. Sekalipun hanya singkatan, tapi gelar acara SHS bole dibilang ajang pemanasan sebelum memasuki masa kampanye pemilihan bakal calon gubernur Sulut.
Eddy, warga Sario mengungkapkan pendapatnya kepada Beritamanado. “Kelihatannya, baik Elly Lasut mapun Sinyo Harry Sarundajang membidik anak sekolah” ungkapnya. Tidak bisa dipungkiri kegiatan-kegiatan seperti ini merupakan bagian dari strategi pencitraan menjelang pilkada Gubernur Sulut. Sekalipun yang dikerahkan adalah anak-anak sekolah, tapi sasarannya orang tua murid. Efeknya jelas. Kalau yang dibantu adalah anak sekolah, pasti orang tua dari anak sekolah akan merasa gembira lalu kemudian memberikan dukungan kepada kandidat yang membantu anaknya.
Langkah ini direspon positif oleh sejumlah warga yang memiliki anak sekolah. Kata mereka, dengan program ini akan mengurangi beban orang tua terhadap biaya pendidikan. CHRISTY MANARISIP

“Jangan Ada Pembunuhan Karakter”
Sejak berita PILKADA Gubernur bergulir, maka mulai nampak adanya pembunuhan karakter bagi figur/tokoh-tokoh elit di sulawesi utara.
ini jelas terlihat dari mulainya bermunculan Black Complaint yang berhembus dari satu figur merambat ke figur lain. Hal ini membuat suasana politik di Sulawesi Utara mulai tidak mengenakkan. Harusnya Masyarakat menyadari bahwa kita semua sedang diuji apakah Motto ” Torang Samua Basudara” memang menjadi landasan visi kehidupan di daerah nyiur melambai yang kita cintai ini ataukah hanya sebatas puisi yang tidak menjiwai kehidupan masyarakat. Sangat disayangkan apabila para Kader anak bangsa yang diharapkan dapat membangun daerah sulawesi utara hanya menjadi bulan-bulanan bahkan hanya menjadi Tikus Politik.
Kita harus melihat kembali pola pikir dan cara pandang bahwa kita akan bersama-sama membangun sulawesi utara menjadi lebih baik.