Bisnis dan Ekonomi

Ekonom Sulut: Meningkatkan Kepercayaan terhadap Industri Asuransi Memerlukan Edukasi dan Kolaborasi

Ekonom Sulut: Meningkatkan Kepercayaan terhadap Industri Asuransi Memerlukan Edukasi dan Kolaborasi

Manado, BeritaManado.com – Tingkat pemahaman masyarakat terhadap industri asuransi adalah aspek penting yang perlu dibangun.

Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Manado, Joy Elly Tulung S.E, M.Sc, Ph.D, menjelaskan, edukasi finansial yang memadai akan memberikan manfaat jangka panjang, tidak hanya dalam memastikan kondisi finansial di masa depan, tetapi juga untuk kestabilan ekonomi negara secara keseluruhan.

Tulung lanjut menjelaskan bahwa produk asuransi sejatinya unik, karena manfaatnya baru dirasakan dalam jangka panjang atau ketika risiko tertentu terjadi, seperti sakit atau kecelakaan.

Ini berbeda dari pembelian barang konsumsi, seperti smartphone, yang manfaatnya dapat dirasakan langsung.

Isu-isu yang sedang mencuat akhir-akhir ini telah mempengaruhi persepsi sebagian masyarakat, membuat mereka mempertanyakan keuntungan dari memiliki asuransi.

Namun demikian, Joy Tulung menekankan bahwa asuransi utamanya harus dilihat sebagai instrumen perlindungan jangka panjang, bukan sebagai investasi instan.

Sinergi antara pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pelaku industri asuransi di Indonesia sangat diperlukan untuk mengembangkan dan melindungi sektor industri asuransi, sekaligus untuk menjaga kepercayaan publik.

Oleh karena itu, Tulung menekankan pentingnya upaya untuk meningkatkan literasi asuransi di kalangan masyarakat melalui edukasi yang komprehensif dan kolaboratif.

Tingkat Literasi dan Inklusi Keuangan
Tulung mengungkapkan bahwa OJK telah empat kali melakukan survei literasi dan inklusi keuangan, terakhir kali pada 2022.

Menariknya, peningkatan signifikan terlihat, terutama antara 2019 dan 2022, dengan indeks literasi meningkat dari 38,03% menjadi 49,68%, sementara indeks inklusi juga naik dari 76,19% menjadi 85,10%.

Namun, di Sulawesi Utara (Sulut), berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2022, meskipun 86,23% penduduknya sudah memiliki akses ke berbagai produk dan jasa keuangan, hanya 50,13% di antaranya yang memiliki pemahaman yang memadai tentang produk dan jasa tersebut.

Rendahnya tingkat literasi ini dapat membawa risiko tersendiri.

Sebagai contoh, masyarakat tidak mengerti tentang produk yang mereka beli sehingga salah paham tentang manfaat yang diterima atau membeli produk asuransi yang kurang sesuai kebutuhan.

Kondisi ini diperparah dengan indeks literasi asuransi yang hanya sekitar 31,72% dibanding indeks literasi keuangan keseluruhan tingkat nasional yang mencapai 49,68%.

“Jadi, memang masih sangat sedikit masyarakat yang memahami secara mendalam tentang asuransi,” kata Tulung.

Dia juga menambahkan bahwa dalam kategori literasi, ada empat tingkatan, yaitu well-literate (melek tinggi), sufficient literate (cukup melek), less literate (kurang melek), dan yang terakhir adalah not literate (tidak melek).

Jadi, dari angka 31,72%, belum semuanya well-literate.

“Yang mengejutkan adalah bahwa Sulut menduduki peringkat 33 dari 34 provinsi dalam indeks Tingkat Kegemaran Membaca yang juga disusun oleh Badan Pusat Statistik. Kondisi ini patut mendapat perhatian serius karena tingkat literasi memiliki keterkaitan yang erat dengan kegemaran membaca,” jelasnya.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara