“Pertumbuhan eksplosif merek-merek China ini menunjukkan kekontrasan yang tajam terhadap pelemahan kinerja pasar otomotif secara keseluruhan,” ungkap Yannes Martinus Pasaribu, seorang pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), kepada Xinhua pada Selasa (22/4).
Lantas, apa resep rahasia mereka? Kuncinya ada pada agresivitas penetrasi di segmen kendaraan listrik (EV).
Merek-merek China kini mendominasi pasar EV Indonesia dengan pangsa pasar mencapai 90 persen, jauh di atas merek Korea Selatan yang hanya punya 6 persen.
Kesuksesan pemain kunci seperti BYD, Wuling, dan Chery tak lepas dari strategi cerdas mereka, yakni harga yang sangat kompetitif, integrasi fitur teknologi canggih (terutama pada EV), dan keselarasan strategis dengan insentif pemerintah yang gencar mendorong adopsi EV.
Hasilnya, penjualan EV berbasis baterai di Indonesia naik hampir tiga kali lipat di Q1 2025, dengan 16.770 unit terjual.
Kontribusinya terhadap total penjualan mobil pun meningkat signifikan, dari 1,7 persen pada 2023 menjadi 4,9 persen di Q1 2025.
Harga Terjangkau dan Pergeseran Pandangan Konsumen
Salah satu daya tarik utama mobil China di Indonesia adalah harganya yang ramah di kantong.
Umumnya, kendaraan mereka lebih terjangkau dibandingkan merek Jepang, Korea Selatan, atau Eropa.
Tapi jangan salah, harga murah ini bukan berarti murahan.
Produsen mobil China justru memanjakan konsumen dengan fitur dan teknologi canggih yang melimpah, mulai dari desain futuristik hingga sistem infotainment berbasis kecerdasan buatan (AI).
Inilah yang membuat Yose Rizal (45) mantap membeli Wuling Air EV Lite dua bulan lalu.
“Saya membeli mobil ini karena harganya yang terjangkau, modelnya menarik, ada garansi baterai, dan bengkelnya banyak,” cerita ayah tiga anak ini kepada Xinhua pada Senin (23/6).
Yose memang sengaja mencari mobil listrik dan sejak awal menjadikan merek China sebagai pilihan utama.
Lebih dari sekadar harga, ada pergeseran besar dalam persepsi konsumen terhadap produk buatan China.
Dulu, produk China sering dicap murah dan tidak bisa diandalkan.
Namun, stigma itu perlahan sirna berkat kesuksesan perusahaan seperti Huawei dan Xiaomi yang berhasil melahirkan produk berkualitas tinggi yang mampu bersaing dengan merek global.
Sebuah survei dari platform analisis daring stratsea.com pada 2024 menunjukkan tren positif terhadap EV China, dengan sekitar 66 persen konsumen memandang kendaraan listrik China secara positif.
Ini adalah buah dari kerja keras merek-merek China dalam meningkatkan kualitas produk dan layanan demi membangun kepercayaan konsumen.
