
ilustrasi ttppo / korban Meilani (ist)
Manado, BeritaManado.com – Nasib memprihatinkan dialami seorang pekerja migran perempuan asal Sulawesi Utara. Meilany Madalomban (28), warga Kelurahan Paal IV, Kecamatan Tikala, Kota Manado, diduga menjadi korban penganiayaan dan eksploitasi oleh majikannya di Tripoli, Libya, negara yang hingga kini masih dilanda konflik bersenjata.
Kondisi Meilany dilaporkan semakin memburuk dan membutuhkan penanganan serius dari pemerintah.
Kasus ini mencuat ke publik setelah sebuah video berdurasi 1 menit 40 detik yang menampilkan pengakuan Meilany viral di media sosial. Dalam video tersebut, Meilany tampak menangis dan mengaku menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang atau TPPO.
“Saya Meilany Madalomban, saya korban TPPO asal Sulawesi Utara. Saya tereksploitasi dari sponsor Jimmy Langkay,” tutur Meilany dalam video tersebut.
Meilany mengungkapkan, keberangkatannya ke luar negeri diawali dengan janji bekerja di Turki. Namun kenyataan yang dialaminya jauh dari harapan. Setelah sempat berada di Dubai selama sekitar dua pekan, ia justru dikirim ke Libya tanpa kejelasan dan persetujuan.
“Saya dijanjikan bekerja di Turki. Tiba-tiba saya sudah berada di Dubai. Setelah itu saya dikirim ke Libya. Saya sudah terjebak di sini selama 11 bulan dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga,” ungkapnya sambil menangis.
Selama sebelas bulan berada di Libya, Meilany mengaku bekerja sebagai pembantu rumah tangga tanpa kontrak resmi.
Lebih mirisnya lagi Meilani diduga dipaksa oleh majikannya memakai hijab, padahal dirinya non-muslim.
“Saya harus menjalani jam kerja yang berlebihan, tanpa perlindungan hukum, serta mengalami tekanan fisik dan mental”, ucapnya.
Akibat beban kerja yang berat, kondisi kesehatannya terus menurun dan sering merasakan sakit di sekujur tubuh, termasuk pada bagian tulang belakang.
Dalam kondisi penuh ketakutan, Meilany telah berulang kali meminta agar dipulangkan ke Indonesia. Namun permintaannya ditolak oleh majikan.
Ia pun memohon perhatian dan bantuan Pemerintah Republik Indonesia, termasuk Kementerian Luar Negeri, BP2MI, Kementerian HAM, perwakilan KBRI, serta Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, agar dapat segera diselamatkan dan dipulangkan ke tanah air.
“Saya sudah meminta kepada majikan untuk dipulangkan, tetapi mereka tidak mau. Saya mohon kepada pemerintah Indonesia, tolong pulangkan saya ke tanah air,” pintanya penuh harap.
Sementara itu, pihak keluarga di Manado juga menyuarakan keprihatinan mendalam. Adik korban, Olivia Sangkay, bersama ibu mereka Bernadette Sangkay, mengaku telah berupaya mencari bantuan demi keselamatan Meilany.
Keluarga menyatakan sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, selain berharap ada kepedulian dari pemerintah dan pihak terkait.
“Dia sudah minta-minta tolong ke kami karena dia disiksa. Kami di sini sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi,” ujar Olivia dengan suara lirih saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Paal IV, Jumat (23/1/2026).
Keluarga secara khusus memohon perhatian Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, para menteri terkait, serta Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling, agar membantu memulangkan Meilany ke Manado.
