
MANADO – Mengejutkan. Kabarnya Danau Makalehi di Kabupaten Sitaro, Danau Tondano di Kabupaten Minahasa dan Danau Moat di Kota Kotamobagu diduga tercemar bakteri escherichia coli (e-coli) karena sudah melebihi baku mutu.
“Kami memang tinggal menganalisa data. Tapi indikator e-coli di tiga danau ini sudah berada di atas baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolahan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air Sungai dan Danau,” kata Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Pengelolaan, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Provinsi Sulawesi Utara, Sonny Runtuwene, Kamis (10/11).
Dia mengatakan, untuk uji kualitas air di tiga danau ini menggunakan beberapa parameter uji yaitu suhu, derajat keasamaan (pH), e-coli, total coli (T-coli), minyak dan lemak, nitrat serta fosfat.
“Kurang lebih ada 15 paremeter uji yang kami gunakan di empat titik sampel yang ada di masing-masing danau,” katanya.
Selain bakteri e-coli, paremeter uji lainnya yang berada di atas baku mutu adalah parameter nitrat. Di atas ambang batas paramater e-coli dan nitrat menurut Runtuwene ada kaitannya dengan aktivitas pertanian dan limbah warga yang di buang ke sungai yang menuju kolam danau.
“Untuk pengendalian pencemaran yang ada di danau yang diakibatkan pemanfaatan pestisida secara perlahan bisa menggunakan pupuk organik sebagai pengganti pestisida. Sedangkan untuk e-coli perlu dibangunnya instalasi pengolahan limbah di permukiman ataupun restoran dan rumah makan yang berjejer di pinggiran danau,” katanya.
Selain itu, ujar Runtuwene, aktivitas peternakan yang ada di sekitar danau juga perlu diawasi. Harus dihindari kotoran ternak dibuang langsung ke danau tanpa melalui pengelolaan.
“Saya pernah mendengar ada Tata Ruang Danau Tondano. Tapi saya tidak tahu persis apakah tata ruang tersebut benar-benar digunakan sebagai arahan atau tidak,” katanya.
Dia mencontohkan manfaat Danau Tondano di Kabupaten Minahasa. Danau ini selain menjadi sumber hidup nelayan tradisional, aliran air dari danau akan menggerakkan turbin pembangkit listrik yang ada di Desa Tonsea, Tanggari dan Tanggari I.
“Kalau tidak ada arahan untuk pemanfaatan danau, ke depan kita akan berpersoalan dengan listrik akibat berkurangnya debit air di danau Tondano. Atau kehidupan nelayan tradisional semakin terjepit akibat semakin buruknya kualitas air danau sehingga populasi ikan semakin sedikit,” katanya.(niel)

Saya pernah melihat langsung burung burung bermigrasi ( Biasa kalau
sudah mulai dingin/es mereka terbang jauh ke daerah yang lebih hangat)
Beratus mereka mati karena makan ikan/minum air dari danau yang sudah
tinggi indikator pencemaran/bioindicator sewaktu mereka singgah.
Ikan ikan kecil serta aquatic life lainnya yang lebih sensitif terhadap pence-
maran sudah lama punah Ikan yang lebih besar sudah keracunan dan tidak
bisa di konsumsi lagi. Penduduk disekitarnya sudah meniggalkan danau ter
sebut. Pemerintah setempat sudah mengeluarkan biaya ratusan milyar
rupiah(kalau di kurskan) dalam proses/waktu yang cukup lama, masih tidak
tertanggulangi. Dan mereka baru sadar kalau sudah terlambat.
Ini salah satu contoh yang kita harus renungi. Apa lagi ahir ahir ini percepa-
tan populasi penduduk meningkat, penggunaan pupuk buatan dan pestisida
meningkat dan berlebihan, penggunaan detergent, sampah dan limbah lainya.
Belum lagi erosi yang mempercepat kedangkalan.
Jangan sampai polusi danau jauh lebih cepat dari usaha/dana pemerintah
Rakyat harus lebih mengerti untuk menjaga kebersihan dsb. Karna rakyat
sendiri yang akan langsung merasakan akibatnya.
Semoga kita bisa lebih bijaksana untuk menjaga keindahan dan kelestarian
tanahvwarisan leluhur kita Sulut yang kita cintai.