
JAKARTA – Gaya Politik Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Sinyo Harry Sarundajang (SHS), dinilai monopolitik oleh Pengamat Politik Nasional, M Wiwid. Menurut pengamat dari Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (Demos), kekuasaan monopolitik tersebut mencederai demokrasi.
“Kepemimpinan yang seperti ini bisa membawa citra perpolitikan yang buruk bagi Indonesia kedepannya, karena mengajarkan kepada masyarakat untuk dapat menerima segala kebijakan pemerintah tanpa adanya keterlibatan masyarakat untuk didiskusikan,” ujar Wiwid.
Lanjutnya kepada beritamanado di Jakarta, Selasa (01/03/11) tadi pagi, SHS harus menyadari bahwa di era demokrasi seperti sekarang ini, bila dirinya tak mampu menyesuaikan gaya politiknya, maka akan tergerus dengan sendirinya dan akan merugikan dirinya di kemudian hari.
“Daripada memicu gerakan sosial kemasyarakatan akibat kejenuhan politik yang searah, lebih baik SHS segera merubah gaya berpolitiknya, partisipasi
masyarakat dan lawan politik bila digabungkan dengan keterbukaan demokrasi maka akan terlihat harmonis,” tandasnya. (is)

Si Vis Pacem Parabellum………….Viva Minahasa !!
Kritik sah2 saja.., namun melihat Track record beliau kawan atau lawan pasti mengakui kapasitas n kapabilitas seorang SHS.., baik itu prestasi di tingkat lokal, nasional dan bahkan internasional. Jadi rupa bung Bian bilang musti banyak blajar pa SHS dan itu tak terbantahkan.. @Zakaria: benar kata bung ” hukum tabur tuai berlaku”, berani berbuat berani tanggung jawab.., Jadi ndak ada yg namanya SHS “membungkam” lawan2 politiknya. Apa yg terjadi pada lawan politik beliau, merupakan konsekuensi logis dari perbuatan melanggar hukum dari orang itu sendiri.. Siapa menabur, dia pasti menuai. Itu pasti..!!!
Menyukai Berita Ini
gubernurnya agak …… sie… jadi tetep aja maksa maju… heheheheheeee
@Demos: betul pak’
Alasan:
1. Perpolitikan Sulut cenderung diam, laten. Menjadi BOM waktu dikemudian hari. Itu pasti, hanya waktu yang menjawabnya setelah SHS selesai 2014.
2. Semua yang berani kritik SHS (lawan politik) pasti di babat habis-habisan. Kecenderungan menjadi ‘Raja Kecil’ yang arogansinya luar biasa.
3. Membahayakan Demokrat kedepan, akan ditinggal konstituen.
4. ‘Style politic’ the silent killer.
5. Siapa menabur, dia pasti menuai. Itu pasti!.
6. Pembangunan yang tidak merata dan tidak kelihatan. Hanya kamuflase membuat segala rangkaian acara seakan-akan Mendunia.
7. Umur pemimpin sangat menentukan, ‘telinga tipis’
Kritik membangun bukan menjatuhkan.
Wah berita ini rupanya Bian Tjia musti baca, agar nyanda talalu angka angka orang…