Bisnis dan Ekonomi

Dari Talawaan hingga Talaud, Teknologi Membuka Jalan Baru Ekonomi Sulut

Dari Talawaan hingga Talaud, Teknologi Membuka Jalan Baru Ekonomi Sulut
Teknologi hadirkan digitalisasi keuangan, transaksi UMKM kini lebih cepat, mudah dan aman

Penulis: Sri Surya

Bagi pelaku UMKM, digitalisasi bukan hanya sekadar perubahan gaya transaksi dari tunai menjadi digital, tetapi membawa harapan akan datangnya kesempatan dan peluang baru yang lebih baik.

Itulah yang dialami Julia Kaligis, salah satu pelaku usaha UMKM kue tradisional kukis gelang, dengan merek SS atau lebih dikenal dengan Kukis Gelang Talawaan.

ADVERTISEMENT

Kukis gelang terbuat dari bahan-bahan sederhana, yaitu gula batu (gula merah), kacang tanah dan tepung terigu. Namun, kue jenis ini harus diolah dengan cara tradisional sehingga dibutuhkan teknik khusus dan “feeling” dalam membuatnya.

Kepada BeritaManado.com, Julia mengaku mendapat resep dan diajarkan khusus membuat kukis gelang sejak belia oleh sang bunda, Stans Katuuk yang memang merupakan warga Desa Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara, Sulut.

Dari Talawaan hingga Talaud, Teknologi Membuka Jalan Baru Ekonomi Sulut
Kukis Gelang SS Talawaan

Sebelum digitalisasi, pemasaran kukis gelang hanya sebatas wilayah Talawaan dan sekitarnya, serta beberapa pelanggan dari luar desa karena promosi dari mulut ke mulut.

Otomatis, produksi kukis gelang hanya terbatas, sesuai dengan wilayah pemasaran yang ruang lingkupnya masih kecil. Keuntungan pun tak seberapa, dicukupkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun semua berubah saat hadirnya digitalisasi. Promosi produk menjadi tidak sebatas hanya di Desa Talawaan, tapi lebih jauh, lebih luas.

“Produk kami kini sering dipesan untuk jadi oleh-oleh ke berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri. Jakarta jadi kota paling banyak dituju untuk Indonesia, sementara untuk luar negeri sudah ke Malaysia, Singapura, Amerika Serikat,” ujar Julia saat ditemui pada Rabu (16/9/2026) di Manado.

Media sosial disebut Julia menjadi salah satu faktor pendorong berhasilnya promosi yang dilakukan sehingga pelanggan dari luar daerah bisa mengetahui produknya.

Perubahan baik makin terjadi saat Julia mulai menggunakan QRIS. Selain memudahkan dirinya dalam bertransaksi, dirinya kini tidak perlu lagi rajin menukarkan uang dengan nominal pecahan kecil untuk kembalian.

“Sekarang dengan QRIS tinggal scan, selesai. Tidak perlu lagi ada drama tukar doi dulu (tukar uang ke nominal pecahan kecil), semua beres dengan QRIS. Saya juga jadi lebih mudah mengatur keuangan usaha ini karena setiap transaksi tercatat, lengkap dengan waktunya,” ungkap Julia.

Kini, Julia harus lebih kerja keras karena pesanan kukis gelangnya terus meningkat. Dulu, pesanan hanya ada di kisaran puluhan hingga ratusan per minggu. Kini, ia mengaku sering tidak tidur malam karena harus menyelesaikan pesanan yang jumlahnya bisa ribuan buah dalam 1 hari.

Meski begitu, Julia bersyukur karena kini dirinya punya prospek bisnis yang lebih baik dengan potensi keuntungan yang jauh lebih besar. Dengan demikian, Julia yakin banyak target hidup ke depan yang akan mampu di wujudkan.

“Setiap orang tua tentu ingin yang terbaik untuk anak. Salah satunya lewat usaha ini, didukung dengan digitalisasi, saya optimis ke depan akan jauh lebih baik,” ucap Julia.

Angka Digitalisasi di Sulut Alami Pertumbuhan

Itulah bagian dari perubahan dalam ekonomi Sulawesi Utara kini, di mana teknologi lewat digitalisasi telah menjadi fenomena baru yang siap membawa perubahan.

Pada semester I 2026, terdapat 387.182 merchant QRIS di seluruh Sulawesi Utara, 40,83 persen di antaranya ada di Manado.

Sementara, jumlah pengguna QRIS sudah mencapai 597.907 pengguna dengan volume transaksi sepanjang Januari-Juni 2026 sebanyak 36.444.826 transaksi.

Angka itu diproyeksikan masih akan bertambah, sebagaimana data dari Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara di mana target QRIS Sulut 2026 untuk pengguna QRIS yaitu 645.791, merchant baru 400.684 dan volume transaksi 58.885.741.

Transaksi Digital Harus Berdampak pada Masyarakat Luas

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Ricardo Gianluigi Tindi SE, MM menjelaskan, pertumbuhan transaksi digital memang menunjukkan adanya perubahan perilaku ekonomi masyarakat, tetapi tidak bisa langsung disimpulkan sebagai pertumbuhan ekonomi.

“Kita perlu melihat lebih jauh, apakah peningkatan transaksi tersebut benar-benar memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi yang lebih luas,” ujar Ricardo yang akrab disapa Gian, Kamis (24/9/2026).

Ricardo menjelaskan, ukuran keberhasilan bukan hanya berapa banyak transaksi yang terjadi, berapa jumlah pengguna, atau berapa banyak merchant yang bergabung. Namun yang lebih penting adalah apakah digitalisasi tersebut mampu meningkatkan omzet usaha, membuat proses bisnis lebih efisien, memperluas pasar, meningkatkan pendapatan pelaku usaha, menciptakan peluang kerja, dan memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.

“Jadi, transaksi digital adalah bisa menjadi indikator perkembangan ekonomi, tetapi dampak akhirnya terhadap produktivitas dan kesejahteraan masyarakat yang menjadi ukuran utama,” pungkasnya.

Dari Talawaan hingga Talaud, Teknologi Membuka Jalan Baru Ekonomi Sulut
Urban Digifest 2026 dapat banyak dukungan

Dampak Positif Digitalisasi Dirasakan UMKM

Terbaru, ada Urban Digifest X Sulut Coffee Fest 2026 yang dilaksanakan pada 12-15 Agustus 2026 di Mantos, Manado.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Joko Supratikto menjelaskan, jumlah UMKM yang terlibat dalam seluruh rangkaian Urban Digifest 2026 tercatat sebanyak 233 pelaku UMKM (terdiri atas 127 UMKM makanan minuman kemasan, 50 UMKM wastra/kerajinan/kriya, 28 UMKM kopi, 20 UMKM ready to eat, 3 UMKM pangan, 5 UMKM pendukung desa wisata).

Dari hasil rekapitulasi seluruh rangkaian mulai dari Road to hingga pelaksanaan Urban Digifest sampai hari ke-3, total transaksi penjualan tercatat sebesar Rp3.014.826.462 (tiga miliar empat belas juta delapan ratus dua puluh enam ribu empat ratus enam puluh dua rupiah).

“Namun, refleksi BI Sulut tidak hanya berhenti pada capaian angka. Urban Digifest harus mampu menjawab pertanyaan yang lebih besar: apakah UMKM semakin naik kelas, akses pasar dan pembiayaan semakin terbuka, terciptanya wirausaha baru, serta apakah digitalisasi semakin menjadi bagian dari aktivitas ekonomi Masyarakat di Sulawesi Utara,” ungkap Joko.

Untuk itu, Urban Digifest 2026 diperkuat dengan business matching pembiayaan, promosi perdagangan dan ekspor, peningkatan kapasitas UMKM, edukasi pelindungan konsumen, serta berbagai workshop yang memberikan keterampilan praktis bagi pelaku usaha.

“Ke depan, kami berharap keberhasilan Urban Digifest tidak semata diukur dari ramainya kegiatan, tetapi dari dampak yang tetap hidup setelah kegiatan berakhir,” kata Joko.

Tidak Semua Orang Punya Titik Awal yang Sama

Namun disayangkan, kemudahan memperoleh akses digitalisasi warga kepulauan, pegunungan dan perbatasan tidak semudah mereka yang di kota atau wilayah ramah internet.

Transformasi tersebut juga diperkuat melalui QRIS sebagai media transaksi utama, sehingga Urban Digifest sekaligus menjadi laboratorium nyata untuk memperluas akseptasi pembayaran digital bagi UMKM dan masyarakat.

Akses internet, BTS, blank spot, bahkan kualitas jaringan masih menjadi persoalan.

Contoh saja wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud yang masih bergumul untuk mendapat internet berkualitas.

Yanti Pogo, salah satu tenaga medis yang juga sedang merintis usaha kuliner mengaku, minimnya layanan digital yang mumpuni di daerahnya membuat banyak hal masih di belakang daerah lain di Sulut.

Sinyal internet sangat bergantung pada listrik, sementara listrik di sana belum maksimal. Begitu juga dengan informasi soal mewaspadai penipuan yang belum tersosialisasi secara menyeluruh.

“Makanya di kampung kami ini, mereka yang masih muda dan lebih melek teknologi harus membantu warga lainnya yang kesulitan mengerti, terutama tentang keamanan data dan modus penipuan lainnya. Banyak yang belum mengerti karena informasi di sini masih terbatas, jika dibandingkan dengan daerah yang sinyalnya lancar. Itu masalah kami di kepulauan yang pas juga perbatasan ini, mengejar ketertinggalan,” ungkap Yanti.

Yanti pun berterima kasih kepada Bank Indonesia Sulut karena pernah datang langsung ke Talaud, salah satunya Kecamatan Essang, selain untuk panen raya, juga memberi bantuan dan sosialisasi.

Risiko juga Tumbuh

Kepala Divisi PEPK & LMS Kantor OJK Provinsi Sulut dan Gorontalo (OJK SulutGo), Budiman Siahaan mengatakan, sampai 31 Agustus 2026, OJK telah menjatuhkan 1.277 sanksi atas pelanggaran peraturan.

Khusus untuk Sulut, Sebanyak 3.363 laporan scam masuk ke IASC sepanjang November 2024 hingga 31 Juli 2026.

“Penipuan transaksi belanja atau jual beli online menjadi modus penipuan yang paling banyak dilaporkan masyarakat kepada Indonesia Anti-Scam Centre (IASC),” kata Budiman.

Berdasarkan data IASC periode November 2024 hingga 31 Juli 2026, terdapat 603 laporan penipuan transaksi belanja atau jual beli online dari Sulawesi Utara.