
Penulis: Alfrits Semen
Reuni sering kali identik dengan temu kangen dan mengenang masa lalu.
Namun, Reuni Akbar SMA Negeri 5 Manado (SMANLI) Angkatan 1982-2011 yang digelar di Ballroom Sintesa Peninsula Hotel, Jumat (29/5/2026), menghadirkan makna yang jauh lebih luas.
Adalah memperkuat jejaring alumni, menghargai jasa guru, sekaligus menyiapkan arah baru organisasi alumni ke depan.
Lebih dari 450 alumni dan guru hadir dalam kegiatan yang mengusung tagline khas Manado, “Baku Dapa, Ba Kumpul, Kong Ba Cerita, Dinner, Games, Doorprize.”
Mereka datang dari berbagai daerah di Sulawesi Utara bahkan dari luar provinsi.
Ini membuktikan ikatan yang terbangun sejak masa sekolah tetap terjaga meski telah puluhan tahun berlalu.
Suasana keakraban langsung terasa sejak acara dimulai.
Berbagai angkatan tampil dengan identitas dan seragam masing-masing dalam lomba yel-yel yang menjadi salah satu daya tarik utama kegiatan.
Kompetisi berlangsung meriah namun tetap menjunjung sportivitas karena penilaian dilakukan oleh dewan juri independen dari luar lingkungan SMANLI.
Tidak hanya bernostalgia, reuni tersebut juga menjadi ruang penghormatan kepada para guru yang telah berjasa membentuk karakter dan perjalanan hidup para alumninya.
Panitia menyerahkan penghargaan dan cinderamata kepada sejumlah guru serta pembina Pramuka yang hingga kini masih menjaga hubungan baik dengan keluarga besar alumni.
Momen yang tak kalah berkesan adalah kehadiran sejumlah mantan Ketua OSIS dari generasi awal, di antaranya Fredrik Hengki Nayoan (1982), Karel Kumontoy (1984), serta Hamza Sampo (1985) yang datang khusus dari Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Kehadiran mereka menjadi simbol kesinambungan kepemimpinan yang telah tumbuh sejak masa sekolah dan terus terjaga hingga kini.

Di tengah derasnya perubahan sosial dan perkembangan teknologi, keberadaan organisasi alumni dinilai semakin penting.
Alumni bukan hanya bagian dari sejarah sekolah, tetapi juga aset strategis yang dapat berkontribusi dalam pengembangan pendidikan melalui berbagai program pendampingan, beasiswa, hingga penguatan jejaring profesional bagi generasi muda.
Karena itu, reuni akbar kali ini juga dimanfaatkan sebagai momentum konsolidasi organisasi melalui pemilihan Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) SMANLI periode lima tahun mendatang.
Proses pemilihan ketua umum berlangsung secara demokratis, terbuka, dan penuh nuansa kekeluargaan di bawah pimpinan Ketua Mahyudin Damis dari Angkatan 1982, bersama Sekretaris, Syeni Rumagit, dan anggota, Lanny Surentu.
Dalam pengantarnya, Mahyudin menegaskan kekuatan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh figur yang terpilih, melainkan juga oleh proses yang melahirkan kepemimpinan tersebut.
“Organisasi yang sehat lahir dari proses yang transparan, partisipatif, dan menghormati setiap suara anggota,” tegasnya.
Setelah melalui seluruh tahapan yang telah disepakati bersama, peserta menetapkan Kolonel George Sumilat sebagai Ketua Umum IKA SMANLI, sementara Kornelius Anthonie dipercaya mengemban tugas sebagai Ketua Harian.
Hasil pemilihan tersebut kemudian dituangkan dalam berita acara yang disaksikan dan ditandatangani perwakilan masing-masing angkatan.
Ketua Panitia Kornelius Anthonie mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya pelaksanaan reuni yang menurutnya menjadi bukti kuatnya rasa persaudaraan di lingkungan alumni SMANLI.
“Sebagian hadir dari daerah yang dekat, sebagian lagi menempuh perjalanan jauh. Itu menunjukkan bahwa kenangan masa sekolah memiliki tempat yang istimewa dalam kehidupan setiap alumni,” ujarnya.
Menurut Kornelius, reuni bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sarana mempererat hubungan antargenerasi dan membangun semangat kebersamaan yang dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kontribusi nyata bagi almamater maupun masyarakat.
Keberhasilan Reuni Akbar SMANLI Ke-2 menjadi gambaran bahwa nilai-nilai yang ditanamkan sekolah tidak berhenti saat siswa lulus.
Justru dari ikatan yang terus terpelihara itu lahir solidaritas, kepedulian, dan semangat pengabdian yang menjadi modal penting dalam membangun masa depan pendidikan.
Lebih dari sekadar mengenang masa putih abu-abu, reuni ini menunjukkan bahwa sekolah mampu melahirkan persaudaraan yang bertahan sepanjang hayat, sekaligus menjadi fondasi bagi lahirnya kolaborasi dan kontribusi nyata lintas generasi.
