
Penulis: JenlyWenur | Manado
Kerukunan umat beragama bukan sekadar tentang hidup berdampingan dalam perbedaan, melainkan bagaimana perbedaan menjadi kekuatan untuk membangun solidaritas, menghadirkan kepedulian, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Semangat inilah yang mengemuka dalam kunjungan silaturahmi dan audiensi pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sulawesi Utara bersama jajaran Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulawesi Utara di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara, Kamis (29/10/2026).
Kepala Kanwil Kemenag Sulut, H. Ulyas Taha, menerima langsung Ketua FKUB Sulut, Pdt. Thomas Renata, bersama jajaran pengurus FKUB periode 2026–2030 dan Kepala Badan Kesbangpol Sulut, Johnny Alfriets Alexander Suak, di ruang kerjanya.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat kebersamaan tersebut dilanjutkan dengan audiensi serta curah gagasan (brainstorming) mengenai program strategis FKUB pada akhir 2026 dan awal 2027.
Sejumlah agenda penting dibahas, antara lain Rapat Koordinasi FKUB se-Sulawesi Utara yang direncanakan berlangsung pada 11 November 2026, partisipasi dalam Konvensi Nasional FKUB se-Indonesia di Kupang pada pertengahan November, serta penyelenggaraan Kirab Kerukunan pada pertengahan Desember 2026.
Berbagai agenda tersebut mendapat dukungan dari Kanwil Kemenag Sulut dan Badan Kesbangpol Sulut sebagai wujud sinergi pemerintah dalam merawat harmoni kehidupan beragama.
Dalam kesempatan itu, Kakanwil Kemenag Sulut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Gubernur Sulawesi Utara melalui Badan Kesbangpol atas dukungan terhadap penguatan program kerukunan.
Ia juga menyampaikan penghargaan kepada seluruh pengurus FKUB Sulut yang terus bekerja membangun komunikasi, memperkuat persaudaraan, dan menjaga keharmonisan di tengah keberagaman masyarakat.
“Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bapak Gubernur Sulawesi Utara melalui Badan Kesbangpol atas dukungan nyata terhadap upaya penguatan kerukunan umat beragama. Terima kasih juga kepada Ketua dan seluruh Pengurus FKUB Sulut periode 2026–2030 atas komitmen, dedikasi, dan semangat kebersamaan yang terus dibangun. Kerukunan harus kita rawat bersama, bukan hanya melalui dialog dan pertemuan, tetapi terutama melalui program nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Kita ingin FKUB hadir semakin dekat dengan umat, menjawab kebutuhan masyarakat, dan menjadi jembatan persaudaraan lintas agama,” ungkap Ulyas Taha.
Kepala Badan Kesbangpol Sulut, Johnny Alfriets Alexander Suak, turut mengemukakan gagasan Charity Kerukunan, yakni gerakan kepedulian sosial lintas agama melalui dukungan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR), Perum Bulog, instansi pemerintah, serta berbagai lembaga lainnya.
Gagasan ini diharapkan dapat memperluas kontribusi FKUB, sehingga kerukunan tidak berhenti pada pesan toleransi, tetapi menjelma menjadi tindakan nyata untuk membantu masyarakat yang membutuhkan tanpa membedakan latar belakang agama.
Dalam diskusi tersebut, aspek transparansi dan akuntabilitas juga mendapat perhatian.
Setiap program perlu dirancang dengan tujuan yang jelas, pengelolaan anggaran yang bertanggung jawab, serta mekanisme pelaporan yang terbuka agar kepercayaan publik terhadap FKUB semakin kuat.
Sejumlah pengurus turut menyampaikan gagasan strategis. Pdt. Christy P. dari GMIBM menilai bahwa citra FKUB telah terbangun dengan baik, tetapi perlu diikuti program yang menyentuh masyarakat hingga tingkat akar rumput.
Menurutnya, FKUB periode 2026–2030 harus menghadirkan pendekatan dan terobosan baru yang benar-benar dirasakan manfaatnya.
Sementara itu, Charles Ngangi menyoroti pentingnya pengembangan kurikulum pendidikan kerukunan melalui muatan lokal, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.
Pendidikan sejak dini dinilai menjadi fondasi penting untuk menanamkan sikap saling menghormati, keterbukaan, dan penghargaan terhadap perbedaan.
Gagasan lainnya disampaikan Syahban Mauluddin yang mengusulkan lomba pidato kerukunan bagi siswa pendidikan menengah.
Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan keberanian menyuarakan toleransi sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa persaudaraan merupakan tanggung jawab bersama.
Melalui pertemuan ini, Kemenag Sulut, FKUB Sulut, dan Badan Kesbangpol Sulut meneguhkan komitmen untuk memperkuat kolaborasi dan menghadirkan program kerukunan yang inklusif, transparan, serta berdampak langsung bagi masyarakat.
Kerukunan sejati tidak hanya diukur dari minimnya konflik, tetapi juga dari kesediaan untuk saling menolong, mendengarkan, dan berjalan bersama.
Di tengah keberagaman Sulawesi Utara, semangat itulah yang perlu terus dirawat agar perbedaan tidak menjadi sekat, melainkan kekuatan untuk membangun daerah yang damai, rukun, dan bersaudara.
