
Penulis: Sri Surya | Manado
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, Agus Sudibyo, menilai potensi kemarau panjang tahun 2026 berpeluang memengaruhi kinerja sektor pertanian, khususnya subsektor tanaman pangan dan hortikultura.
Hal ini disampaikan Agus menanggapi prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika terkait kemungkinan terjadinya fenomena cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung mulai April hingga Oktober 2026.
Menurut Agus, peran BPS adalah mencatat kondisi yang telah terjadi sebagai bahan analisis kebijakan, termasuk dinamika Nilai Tukar Petani (NTP) yang dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren penurunan secara bulanan (month-to-month).
“Konsep kami di BPS adalah mencatat apa yang sudah terjadi. Jika terjadi kemarau panjang, tentu subsektor tanaman pangan seperti padi dan jagung berpotensi terdampak. Hortikultura juga bisa terpengaruh,” ujar Agus, Rabu (1/4/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan data tahun sebelumnya, luas panen sebenarnya mengalami peningkatan, baik pada komoditas padi maupun jagung.
Namun demikian, produktivitas justru mengalami penurunan akibat faktor cuaca ekstrem seperti banjir serta serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
“Luas panen naik, tetapi produktivitas turun karena banjir dan serangan OPT. Ini menjadi catatan penting dalam melihat pola musiman yang berulang,” jelasnya.
Agus menambahkan, menghadapi potensi kemarau panjang, diperlukan kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan instansi teknis di bidang pertanian dan pekerjaan umum, terutama dalam memastikan ketersediaan pengairan yang memadai.
Menurutnya, data historis yang dimiliki BPS dapat menjadi acuan dalam membaca pola produksi pertanian, sehingga dapat membantu pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyusun langkah mitigasi yang tepat.
“Data pola musiman sudah kami miliki. Ini bisa menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan untuk mengantisipasi dampak kemarau panjang,” pungkasnya.
