
MANADO – Menjelang hari raya Natal kebutuhan minyak tanah di kabupaten/kota Sulawesi Utara (Sulut) semakin tinggi. Alasan masyarakat Sulut yang mayoritas akan merayakan Natal diperhadapkan dengan persiapan-persiapan tradisional seperti membuat kue Natal serta persiapan konsumsi di setiap Ibadah Natal di Gereja-gereja.
Kebutuhan akan minyak tanah yang semakin tinggi di Sulut berimbas pada minyak tanah yang semakin langka atau sulit dijumpai. Alasan itulah sehinga warga di kelurahan Taas, kota Manado, Minggu (27/11) mulai resah dan panik sehingga relah mengantri minyak tanah dari pagi hingga malam hari hanya untuk mendapatkan 5 liter minyak tanah. Tidak hanya itu kericuhan dalam antrian juga sempat terjadi, beruntung para kepala lingkungan bisa meredamnya.
“Saya antri dari pagi baru dapat sore menjelang malam, pemilik pangkalan juga bilang tadi setiap keluarga hanya dibatasi 5 liter minyak tanah supaya semua kebagian,” ujar ibu Daling warga kelurahan Taas, lingkungan IV.
Hal yang sama juga dituturkan ibu Roosye, warga yang sama mengatakan, “memang pembagian LPG sudah ada cuma bapak yang masih melarang penggunaan LPG itu karena takut meledak (seperti yang diberitakan di media-media massa) jadi LPG itu tidak dipakai.”
Hal senada diungkapkan bapak Saleh, warga yang sama mengatakan “memang siksa antrian minyak tanah kali ini. Bayangkan satu hari antri di panas cuma dapa 5 liter (minyak tanah).” Seraya mengatakan bahwa dirinya telah membuat tungku agar nanti disaat minyak tanah sulit didapat dia bisa memanfaatkan kayu bakar untuk memasak.
“Di rumah kita so beking dodika (tungku) for momasa. Mar musti cari kayu bakar sedangkan disini leh (pingiran kota) kayu susah leh mo dapa,” tukasnya.
Hal tersebut memang membutuhkan peran pemerintah beserta pihak Pertamina guna lebih mengintensifkan dan memaksimalkan peran sosialisasi penggunaan LPG di masyarakat agar penggunaan sumber energi bisa dimaksimalkan apalagi menjelang Natal.
Menyusul konversi minyak tanah ke LPG oleh pemerintah sehingga Pertamina mulai menghentikan distribusi minyak tanah yang menururt informsi dari pemerintah provinsi Sulut penarikannya telah ditunda hingga akhir Januari 2012. (jrp)
