Oleh : Drs Darmo Paputungan
- STRUKTUR EKONOMI MASYARAKAT
Diakui bahwa perekonomian Negara kita masih bertumpu pada sektor agraris, karena sebagian besar masyarakat hidup dari sektor pertanian, apakah tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, bahkan sebagian hasil hutan. Hasil – hasil pertanian dimaksud identik sebagai komoditas primer yang mudah rusak terlebih jika harus melalui perjalanan jauh dan memakan waktu lama. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap daya saing komoditas primer.
Kemajuan suatu Negara atau daerah juga diukur dari perubahan struktur ekonomi masyarakat yang semula sangat bergantung pada hasil penjualan komoditas agrarian selanjutnya secara bertahap mulai mengandalkan komoditas olahan. Hasil-hasil industri memiliki daya saing lebih baik karena tahan lama dan dapat dipasarkan secara luas baik antar pulau dan ekspor.
Di samping itu, karena sifatnya yang tahan lama, komoditas olahan mempunyai posisi tawar lebih baik, sehingga dapat membantu memperbaiki perekonomian masyarakat.
- POTENSI HASIL PERTANIAN DI BOLMONG RAYA
Daerah Bolaang Mongondow Raya sangat dikenal sebagai penghasil utama komoditas pertanian di Sulawesi Utara, bahkan dikenal juga sebagai lumbung padi/beras.
Tidak dapat dipungkiri daerah Bolaang Mongondow memberikan kontribusi besar dalam perdagangan hasil-hasil pertanian dan menyumbang bahan baku bagi industri yang ada di Sulawesi Utara.
Hasil-hasil pertanian dari daerah Bolaang Mongondow, pasarannya dapat dibagi sebagai berikut :
- Untuk konsumsi lokal/Sulawesi utara
- Bahan baku industri di Sulut (Manado, Bitung dan Minahasa Selatan) meliputi kopra, ikan mentah dan lain-lain.
- Untuk antar pulau antara lain ke Sulawesi selatan da wilayah Timur lainnya (Papua, Maluku) terutama komoditas kentang dan sayuran.
Mungkin tidak ada salahnya diingatkan beberapa komoditas penting yang berasal dari Bolaang Mongondow sebagai berikut :
- Hasil tanaman pangan :
Padi/beras, jagung, kacang-kacangan (kedelai, dll), kentang dan jenis sayuran lainnya serta buah-buahan seperti nenas, dll
- Hasil perkebunan
Buah kelapa, kopra, cengkeh, coklat
- Hasil perikanan
Terutama berbagai jenis ikan dan hasil laut lainnya
- Hasil hutan
Rotan dan berbagai jenis kayu
Beraneka ragam komoditas yang dihasilkan ternyata belum memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan industri pengolahan di daerah Bolaang Mongondow Raya. Keadaan ini tentunya kurang menunjang usaha-usaha meningkatkan pendapatan dan perekonomian masyarakat pada umumnya. Berkembangnya industri yang mengolah hasil-hasil pertanian dapat memberikan pengaruh positif bagi perluasan pasar dan perbaikan harga-harga hasil pertanian yang justru dapat kembali mendorong produktifitas hasil-hasil pertanian dan sektor lainnya.
- DIMANA PERAN BALAI INDUSTRI
Tanggung jawab pengembangan industri di daerah tentu tidak bisa terlepas dari peran Pemerintah Daerah dan balai industri yang ada.
Balai industri mengemban tugas dan fungsi “Penelitian dan Pengembangan” (Research and Development). Menurut pendapat kami sudah terlalu banyak kegiatan penelitian dan uji coba pengolahan berbagai komoditas pertanian yang sudah dilakukan oleh Balai industri. Fungsi yang belum maksimal dilakukan oleh Balai adalah fungsi pengembangan. Balai industri seharusnya memiliki mekanisme kerja dan program yang jelas dan terarah pada pengembangan industri dan kerajinan yang menggunakan bahan baku hasil-hasil pertanian yang sudah diteliti dan di uji coba dan tak berhenti pada kegiatan-kegiatan penelitian saja.
Hendaknya jangan kita lupakan bahwa kendala utama pengembangan industri kecil adalah keterbatasan penguasaan teknologi dan peralatan industri. Sebagian hambatan tersebut bisa diatasi dengan penelitian dan uji coba teknologi dan peralatan meskipun masih sangat terbatas. Sepanjang hasil penelitian dan uji coba sudah memenuhi kriteria “efektif dan efisien” maka langkah-langkah sosialisasi penggunaannya sudah harus dilakukan secara intensif bekerjasama dengan pengusaha kecil di daerah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dengan cara Pilot Project, sistem pendampingan, dan lain-lain. Nantinya masyarakat akan melihat/memantau keberhasilan uji coba tersebut dan akan menjadi motivasi utnuk meniru sebagai tahap-tahap awal berkembangnya industri kecil dan kerajinan. Jika fungsi balai industri hanya selalu bertumpuh pada kegiatan “penelitian” maka dapat dipastikan langkah itu pasif dan jangan berharap terlalu banyak pengembangan industri kecil di daerah Bolaang Mongondow Raya akan menggembirakan. Disamping itu tentu bagaimana peran Pemerintah Daerah yang pro aktif memanfaatkan potensi yang ada melalui kebijakan/program yang terarah termasuk bersinergi dengan institusi terkait.
Penulis adalah : Alumnus Fekon Unsrat Manado 1979
Alumnus PPN 9 bulan LPEM-UI Jakarta 1989
Mantan Kadis Perindag Bolmong

