Pergerakan harga pada dua kelompok tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan IHK barang pemeliharaan rutin rumah tangga serta penurunan IHK emas perhiasan serta komoditas perawatan pribadi.
Sementara itu, fenomena yang tidak jauh berbeda juga terjadi di Kotamobagu.
IHK kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau di Kotamobagu mengalami deflasi sebesar 0,47 persen (mtm) dan berkontribusi pada deflasi umum Kotamobagu sebesar 0,16 persen (mtm).
Namun demikian, berbeda dengan Manado, komoditas yang menjadi penyumbang utama deflasi di Kotamobagu bukan komoditas perikanan, melainkan bawang merah, telur ayam ras, disamping cakalang diawetkan.
Penurunan IHK bawang merah sejalan dengan kecukupan pasokan bawang merah, termasuk dari sekitar Kotamobagu yang masuk periode panen pada Februari 2021.
Sementara itu, komoditas cakalang diawetkan cenderung mengalami normalisasi harga setelah mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan dalam dua bulan terakhir.
Sementara itu, deflasi di Kotamobagu juga ikut digerakan oleh penurunan IHK pada kelompok pakaian dan alas kaki serta kelompok Transportasi.
Penurunan IHK pada kelompok Pakaian dan Alas kaki didorong oleh penurunan harga komoditas baju muslim wanita serta celana panjang jeans anak.
Adapun kelompok Transportasi terpengaruh penurunan harga mobil dan ban luar mobil.
Menyikapi pergerakan IHK Manado dan Kotamobagu, Bank Indonesia dan TPID Sulawesi Utara memandang bahwa penurunan tekanan inflasi tidak terlepas dari tren aktivitas di Sulawesi Utara.
Aktivitas ekonomi pada sektor grosir dan farmasi selama tiga minggu pertama Februari 2021 tercatat masih sebesar 17,20 persen di bawah aktivitas pra Covid-19 (baseline).
“Perkembangan ini meski belum membaik secara signifikan dari bulan Januari yang tercatat 26,85 persen di bawah baseline, secara berangsur mendukung perbaikan permintaan dan meningkatkan tekanan inflasi,” ujar Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Sulut, Arbonas Hutabarat, Senin (1/3/2021).
Namun, terjaganya stok seiring peningkatan produksi sejumlah komoditas mendukung stabilnya harga pada Februari, terutama di Kota Manado.
Sesuai trennya hingga Februari, aktivitas sosial ekonomi masyarakat masih berpotensi meningkat sejalan dengan pengendalian pandemi yang lebih efektif ditunjang bergulirnya proses vaksinasi, sehingga potensi kenaikan tekanan inflasi tetap perlu dicermati.
Ke depan, pengendalian inflasi masih akan dipengaruhi oleh dinamika aktivitas ekonomi masyarakat.
Berbagai upaya untuk menurunkan kurva kasus aktif Covid-19 di Sulawesi Utara menjadi kondisi prasyarat untuk mendorong kembali kenaikan aktivitas ekonomi.
Meski berisiko memberikan tekanan inflasi, peningkatan aktivitas diperlukan untuk menjaga permintaan dan mendorong pemulihan ekonomi daerah.
Adapun untuk tetap mengendalikan tekanan inflasi pada sasaran targetnya, Bank Indonesia memandang perlunya sinergi seluruh Dinas dan Kementerian/Lembaga terkait untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas strategis.
