
Wawancara Eksklusif dengan penguasa 10 tahun Bolmong.
Curahan Hati Butet Ketika Kembali Menjadi “Orang Biasa” (bag 1)
Marlina: Tiada Yang Kebetulan di Dunia Ini. Semua Sudah Diatur
Menilik Figur Marlina Moha-Siahaan memang seperti menceritakan Bolmong secara keseluruhan. Selama 10 tahun memimpin daerah terluas di Sulut, Marlina kerap identik dengan semua aktifitas di daerah yang sudah “bernazar” ingin menjadi sebuah provinsi ini.
Kini setelah “melepas tahta” yang 10 tahun ia pegang di daerah lumbung beras ini, Sang “Bunda” untuk pertama kalinya berkenan menerima wartawan (Alvin Ratag) untuk mencurahkan isi hatinya, yang merupakan penampilan pertama sang bunda di depan Media setelah “turun tahta”. Mulai dari kisah memimpin selama 10 tahun, hingga cerita tentang ananda ADM, diceritakan tuntas oleh perempuan yang berjasa memekarkan Kabupaten Bolmong.
Waktu menunjukan kira-kira hampir jam 9 pagi, kami sempat kaget ketika rumah yang terletak di dekat kantor Polres Bolmong ini dibuka oleh seorang Perempuan Berjilbab yang menyambut kami dengan ramah.
”Ibu sendiri yang selalu membuka pintu samping setiap hari,” kata seorang penjaga rumah yang sempat bercakap dengan wartawan sebelum masuk.
BM : Pa Kabar Bunda, tampak fresh sekarang ?
MMS : Alhamdullilah, Puji Tuhan, aktifitas berkebun sepertinya yang membuat saya fresh. Bunda juga sekarang menghabiskan banyak waktu dengan jogging, bahkan ke pasar pun Bunda luangkan dengan berjalan kaki. (raut wajah MMS tersenyum ramah, sambil menyuruh seorang pembantu untuk membuatkan kopi untuk wartawan ini)
BM : Saat ini setelah menjadi orang biasa, apa aktifitas Bunda ?
MMS : Aktifitas Bunda sekarang berkebun, menghadiri undangan dan masih mengendalikan Partai Golkar hingga 2015.
BM: Kapan titik toleransi yang Bunda tetapkan untuk berhenti total di aktifitas politik ?
MMS : Setelah 2015 (akhir periode) Bunda akan total berhenti di dunia politik.
BM : Bunda kelihatan enjoy saja sekarang, seperti tidak ada Post Power Syndrome?
MMS : (Bunda tersenyum ketika mendapat pertanyaan seperti ini sambil mencoba memperbaiki posisi duduk). Tidaklah, saya tidak merasa mengalami Post Power Syndrome. Sebagai anak dari keluarga FKPPI, saya sudah terbiasa mengalami mutasi jabatan sang ayah, sehingga tak ada lagi merasa mengalami Post Power Syndrome.
BM : Ada sebuah ungkapan dari seorang Tokoh Politik di Sulut, bahwa seorang Politisi khsususnya yang menjadi Kepala Daerah, setengah badannya sudah berada di di istana, sedangkan setengah lagi telah berada di penjara. Pernahkah terpikir di benak Bunda saat menjabat, bahwa suatu saat akan mengalami saat seperti itu ?
MMS : (sambil tertawa, Bunda menjawab saambil mempersilahkan kami minum kopi yang sudah mulai dingin). Hidup adalah sebuah konsekwensi. Bunda berserah diri saja. Lebih baik Bunda berjalan dan terjadi konsekwensi daripada kita duduk diam dan terjadi konsekwensi. Sebagai Bupati, Bunda sudah siap menerima konsekwensi jabatan yang dijalankan. Apapun itu. (sempat terdiam sebentar bunda kemudian melanjutkan). Bunda bersyukur, bahwa Bunda merasa dijaga dengan baik oleh rakyatnya.
BM: Sepertinya Bunda telah mempersiapkan ananda ADM (Aditya Anugerah Moha) sebagai kader yang akan melanjutkan tongkat estafet Bunda di pentas politik?
MMS : Ananda ADM memilih jalur politik tanpa paksaan. Tak ada memaksakan ybs untuk masuk dunia politik. Anak bungsu Bayu malah memilih jalur menjadi PNS. Semua anak dibebaskan memilih.
BM : Bagaimana perasaan Bunda melihat ananda ADM saat tampil sebagai wakil rakyat di televisi.
MMS : Sebagai seorang ibu ada kebanggan tersendiri melihat ananda ADM berjuang memperhatikan kepentingan rakyat. ADM adalah politisi muda potensial. Biarkan dia belajar dan Bunda yakin dia akan cepat belajar.
BM : Banyak yang menilai kegagalan ADM di Pilkada beberapa waktu lalu diakibatkan banyak rakyat yang tak lagi menginginkan Dinasti Moha kembali berkuasa di Bolmong. Tanggapan Bunda ?
MMS : Bunda pikir bukan seperti itu. Paradigma sudah berubah. Ke depan pemerintah perlu merubah proses/ tata cara Pilkada. Banyak celah yang harus diperbaiki.
BM : Atau mungkin rakyat merasa kecewa karena sudah memilih ADM, tapi ADM malah memilih “pulang” mengikuti Pilkada. Atau apakah karena ananda ADM salah strategi, seperti salah memilih pasangan ?
MMS : Bunda pikir tidak seperti itu. Beberapa kelemahan dalam Sistem Pilkada langsung harus dibenahi pemerintah. (Alvin Ratag)
(bersambung)
