
Manado – Pasca perlawanan Permesta puluhan tahun silam, Provinsi Sulawesi Utara dapat melaksanakan pembangunan dengan lancar tanpa kendala berarti.
Suasana aman dan damai yang tercipta di daerah Nyiur Melambai merupakan modal besar yang diwariskan oleh para pemimpin dan pendiri provinsi Sulawesi Utara sehingga pembangunan daerah bisa dilaksanakan dalam kondisi aman dan nyaman.
F.J Tumbelaka, sosok sentral perdamaian antara perlawanan Permesta dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) ditandai dengan kembalinya Permesta ke pangkuan Ibu Pertiwi.
F.J Tumbelaka, putera asli Minahasa yang berkarir di militer diutus oleh khusus oleh panglima divisi Brawijaya (sekarang Pangdam Brawijaya) yang berpusat di kota Malang, Jawa Timur untuk mendamaikan pergolakan perlawanan oleh Permesta di Sulawesi Utara justru ketika F.J Tumbelaka sudah mengundurkan diri dari TNI.
F.J Tumbelaka diundang jajaran elit divisi Brawijaya kemudian diutus ke Manado ketika itu masih bagian dari provinsi Sulawesi. Mendarat di Manado pada 5 Januari 1960 dari bandar
udara Tanjung Perak Surabaya, menginap di Sario, membawa misi khusus sangat rahasia.
Ketika itu Manado dikuasai Permesta. 15 Maret 1960 bertemu tokoh Permesta Daniel Julius Somba di Matungkas, rumah papa mantu Sompie Singal. Hasil pertemuan dilaporkan ke Jenderal Nasution, Ahmad Yani dan lain-lain. Setelah itu F.J Tumbelaka ditunjuk menjadi wakil gubernur Sulutteng mendampingi gubernur Baramuli.
Menurut Taufik Tumbelaka, F.J Tumbelaka menjabat wakil gubernur ditugaskan khusus untuk pemulihan keamanan sekaligus memelopori perundingan perdamaian antara pemerintah dengan perlawanan Permesta.
“Perundingan kedua dengan Permesta di desa Popareng (di Minahasa Selatan). Akhirnya perdamaian tercipta pada 4 April 1961. Keberhasilan mendamaikan Permesta dengan pemerintah Indonesia adalah suatu kejutan. F.J Tumbelaka juga ikut mendamaikan pemerintah dengan perlawanan Darul Islam di Sulawesi Tengah.
Sebelumnya, ibu N.Z Tumbelaka-Ticoalu melalui Taufik Tumbelaka mengatakan, pengalaman pergolakan perlawanan Permesta di Sulawesi Utara menjadi pengalaman sekaligus pelajaran betapa penting perdamaian bagi suatu daerah. Tanpa perdamaian, mustahil bisa membangun.
“Perdamaian syarat mutlak bagi suatu bangsa termasuk daerah kita provinsi Sulawesi Utara untuk bisa membangun. Pengalaman perlawanan Permesta lalu, jangan terulang,” tutur Taufik Tumbelaka menirukan ucapan ibu N.Z Ticoalu, isteri dari Gubernur Sulut pertama F.J Tumbelaka kepada BeritaManado.com, Rabu (4/1/2017).
Ibu Ticoalu mengisahkan ketika pertama kali F.J Tumbelaka menginjakkan kaki di kota Manado pada 5 Januari 1960 dari bandar
udara Tanjung Perak Surabaya.
Kedatangan F.J Tumbelaka yang diutus panglima Brawijaya yang berpusat di kota Malang membawa misi khusus sangat rahasia untuk mendamaikan perseteruan Permesta dengan pemerintah Indonesia.
“Itu baru sepenggal dari catatan sejarah pentingnya perdamaian. Perdamaian yang ditandai dengan kembalinya Permesta ke pangkuan Ibu Pertiwi merupakan tonggak sejarah cikal bakal berdirinya Provinsi Sulawesi Utara pada 23 September 1964. Sekali lagi, perdamaian adalah syarat mutlak pembangunan terlaksana,” tandas Ibu N.Z Ticoalu. (JerryPalohoon)
