Jika ada penjelasan yang meyakinkan, dia bisa saja pindah ke partai lain.
Namun demikian, lanjutnya, hal semacam itu tidak terlalu baik dalam konteks pendidikan politik.
“Orang yang sudah berkarir dalam partai politik begitu panjang, seharusnya tetap ada di partai tersebut. Jangan justru sudah ada di puncak, lalu dia keluar. Itu tidak baik untuk penguatan sistem kepartaian yang ada di Tanah Air,” imbuhnya.
PDI Perjuangan memiliki kepentingan agar suara dukungannya besar.
Karena itu, menurut Saiful, menjadi logis dan bijaksana apabila partai ini mempertimbangkan secara lebih serius calon presiden PDIP.
Jika tidak, PDIP bisa kena “getah”nya atau dampak negatifnya. Dalam banyak survei, suara PDIP selalu nomor satu.
Tapi ketika Ganjar tidak ada di PDIP, peta dukungan berubah dan PDIP tidak lagi ada di posisi teratas.
“Faktor Ganjar sangat kuat dan bisa mengubah peta politik nasional,” jelas Guru Besar Ilmu Politik UIN Jakarta tersebut.
Sementara itu, pada format pernyataan yang sama dengan memasukan nama Airlangga Hartarto dan Erick Thohir, tidak menunjukkan perubahan signifikan.
Berbeda dengan Ganjar yang sudah sangat lama di PDIP serta sebagai Gubernur Jawa Tengah yang merupakan kantong PDIP.
Ganjar bahkan dua kali terpilih sebagai gubernur di provinsi tersebut.
Karena itu wajar kalau Ganjar pindah, maka ada pengikutnya yang besar.
Saiful menyimpulkan bahwa yang bisa membantu peningkatan suara Golkar adalah Ganjar Pranowo.
Namun pencalonan Ganjar oleh Golkar bisa mengubah peta kekuatan partai politik Indonesia.
“Karena itu, diskusi antara Golkar dan PDIP di sini menjadi sangat penting,” pungkasnya.
Survei ini dalam format wawancara tatap muka pada 3 – 9 Oktober 2022.
Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Dari populasi itu dipilih secara random (stratified multistage random sampling) 1220 responden.
