
Penulis: Alfrits Semen | Minahasa Utara
Asap mengepul masih dari kawasan Kaki Dian, Airmadidi Atas.
Di tengah semak dan vegetasi yang mengering, api bergerak mencari jalannya.
Panas menyengat, sementara kepulan asap membuat pandangan terbatas.
Di tempat seperti itu, William Luntungan memilih berada.
Selama tiga hari terakhir, aktivis Sulawesi Utara ini ikut berjibaku bersama tim Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Minahasa Utara menangani kebakaran di kawasan kaki Gunung Kelabat.
Bukan sekadar datang melihat.
Bukan pula hanya memantau perkembangan dari kejauhan.
William turun langsung.
Di tengah asap dan panas, ia bergerak mengikuti petugas.
Ketika selang harus ditarik menuju titik api, ia ikut mengangkat dan menariknya.
Ketika api kembali terlihat di bagian lain, ia bergerak bersama tim untuk membantu penanganan.
Keringat bercampur dengan asap.
Panas api terasa di badan.
Namun William tetap bergerak dari satu titik ke titik lainnya.
Ada alasan mengapa ia memilih berada di sana.
Saat kebakaran menjadi perhatian ramai di media sosial, ketika foto dan video kobaran api beredar dari satu akun ke akun lainnya, William memilih melihatnya dari sisi yang berbeda.
Ia datang langsung ke lokasi.
Ia melihat sendiri bagaimana petugas Damkar bekerja menghadapi medan yang berat.
Ia melihat kebutuhan air, tenaga dan dukungan personel di lapangan.
Dan ia tidak berhenti pada dirinya sendiri.
William ikut mengakomodir dukungan tambahan.
Ia membawa serta ratusan personel kebersihan atau yang dikenal sebagai tim orange untuk membantu penanganan di lapangan.
Setelah menyelesaikan pekerjaan membersihkan sejumlah lokasi pada Rabu (23/9/2026), personel tersebut kemudian diarahkan ikut membantu di titik-titik kebakaran.
Mereka tidak datang untuk mengambil alih tugas Damkar.
Mereka datang membantu.
Membersihkan area, membuka akses, membantu pergerakan di sekitar lokasi dan ikut mendukung petugas ketika api masih harus dijinakkan.
Di lapangan, dukungan juga datang dari berbagai arah.
Relawan komunitas pencinta alam dan warga Airmadidi ikut turun membantu tim Damkar.
Mereka bersama-sama menghadapi medan yang tidak mudah, menyusuri kawasan yang terbakar dan membantu penanganan titik-titik api.
Kebakaran akhirnya tidak lagi menjadi urusan satu kelompok.
Damkar bekerja.
Warga membantu.
Relawan bergerak.
Tim orange ikut turun.
Dan William berada di antara mereka, menjadi salah satu penghubung yang ikut menggerakkan dukungan tersebut.
Salah satu persoalan penting dalam pemadaman adalah air.
William bahkan secara mandiri memasok air untuk membantu kebutuhan armada pemadam.
Di tengah kebakaran, angka itu bukan sekadar hitungan.
Setiap liter air berarti kesempatan untuk memukul mundur api.
Setiap selang yang berhasil ditarik mendekati titik api berarti satu langkah untuk mencegah kobaran meluas.
