Berita Utama

Rivalitas Anyar di Kandang Banteng: Skenario Kaesang Menatap Senayan 2029

Rivalitas Anyar di Kandang Banteng: Skenario Kaesang Menatap Senayan 2029
Kaesang Pangarep pada acara PSI. Foto: Ist


Penulis: Tim Redaksi

Dominasi PDI Perjuangan di Jawa Tengah kembali mendapat ujian serius.

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Kaesang Pangarep, bersiap menjajal peruntungan merebut kursi DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Tengah pada Pemilu 2029.

Ini adalah wilayah yang selama belasan tahun dikenal sebagai basis konstituen paling solid bagi partai berlogo banteng moncong putih tersebut.

Langkah politik Kaesang ditengarai tidak terlepas dari bayang-bayang serta daya tawar politik ayahnya, Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Pengamat Politik dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ridho Al-Hamdi, menilai manuver putra bungsu Jokowi itu memiliki kans elektoral yang terukur lantaran struktur pemilih di Jawa Tengah mengalami pergeseran pasca-Pilpres 2024.

“Peta sosiologis pemilih hari ini tidak lagi sepenuhnya mengacu pada loyalitas primordial partai,” kata Ridho, Rabu (29/7/2026).

“Faktor figuritas individu serta pola penggalangan di tingkat tapak kerap kali lebih memikat ketimbang sekadar bendera partai,” tambahnya.

Perpecahan suara di basis tradisional Jawa Tengahsebagaimana tepercermin pada hasil Pilpres lalu, menjadi celah yang coba dimanfaatkan PSI.

Kehadiran Jokowi yang disinyalir bakal turun gunung menyokong Kaesang dinilai bakal menguji seberapa kebal benteng pertahanan PDIP di Jawa Tengah dari penetrasi trah Surakarta.

Kendati demikian, kalkulasi menuju Senayan tak lantas mulus.

Ridho mencatat, elektabilitas Kaesang dan PSI sangat rentan terhadap isu-isu krusial yang menerpa jajaran elite partai, termasuk isu penegakan hukum dan akuntabilitas politik.

Prahara hukum yang melibatkan petinggi partai bakal langsung menggerus daya pikat PSI di mata pemilih rasional.

Pertarungan perebutan kursi legislator di Tanah Jawa lima tahun mendatang pun diprediksi bukan sekadar perhelatan elektoral biasa, melainkan panggung pembuktian: apakah daya pikat politik Jokowi masih sakti, ataukah “Kandang Banteng” sanggup merebut kembali supremasinya yang sempat goyah.