
Manado, BeritaManado.com — Tahun 2021 menjadi tahun penuh dinamika bagi sektor perekonomian, termasuk bagi Sulawesi Utara.
Terbatasnya aktivitas masyarakat karena tingginya kasus Covid-19 memberi dampak yang signifikan pada pemulihan perekonomian sehingga memasuki tahun 2022, hal itu masih akan menjadi kunci perbaikan perekonomian daerah.
Kenaikan kasus aktif Covid-19 pun diharapkan tidak terjadi lagi pada 2022.
Tingkat vaksinasi yang relatif tinggi merupakan modal besar bagi perekonomian Sulut untuk menjaga aktivitas yang mendukung normalisasi konsumsi domestik.
Selain itu, mobilitas diperkirakan akan berangsur mendekati level sebelum pandemi sehingga berdampak positif terhadap dua lapangan usaha utama Sulut yaitu transportasi dan perdagangan.
Hal tersebut menjadi perhatian saat pelaksanaan Rapat Akhir Tahun Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Sulut yang dilaksanakan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut, Rabu (29/12/2021).
Rapat tersebut dihadiri langsung oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat, Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw, Kepala BPS Sulut Asim Saputra, Sekretaris Provinsi Sulut Gammy Kawatu, para kepala dinas terkait dan undangan lainnya.
Dalam pemaparannya Arbonas menjelaskan, harga komoditas yang masih tinggi akan menjaga insentif produksi pada industri pengolahan dan perkebunan sebagai bahan baku.
Sementara kinerja perikanan diperkirakan membaik seiring menurunnya anomali cuaca pada 2022.
Dari sisi perbankan, percepatan penyaluran kredit menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, dari sisi pemerintah, anggaran APBN di Sulawesi Utara pada tahun 2022 cenderung mengalami penurunan terutama pada belanja modal.
Proyek-proyek strategis nasional di Sulawesi Utara yang sudah hampir selesai pada tahun 2021 diperkirakan menjadi salah satu faktor penyebab anggaran belanja modal APBN di Sulut yang menurun.
Meski demikian, kenaikan DAK fisik dapat menjadi salah satu pendorong investasi pemerintah.
“Oleh karena itu perlu penguatan optimalisasi belanja modal untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah tahun 2022,” ujar Arbonas.
Di tengah prospek perekonomian daerah pada tahun 2022, masih terdapat beberapa risiko perekonomian daerah yang perlu diperhatikan yaitu ketidakpastian perekonomian global yang relatif masih tinggi, resiko gangguan mata rantai global serta resiko biaya logistik yang berada pada level tinggi di samping risiko penyebaran Covid-19 yang masih mengancam.
Gangguan mata rantai global berdampak pada risiko perubahan sourcing produksi di berbagai negara.
Sementara itu, kenaikan biaya logistik berisiko menurunkan daya saing komoditas strategis Sulut.
“Memperhatikan perkembangan data-data indikator perekonomian terkini, kami memperkirakan pertumbuhan Ekonomi Sulut menguat pada tahun 2021 yaitu akan berada pada kisaran 4,2% sampai dengan 5,0% (yoy) dan terus menunjukkan perbaikan pada kisaran 4,5 – 5,5 % (yoy) pada tahun 2022,” ungkap Arbonas.
Terkait hal itu, Steven Kandouw pun mengatakan, hal-hal baik yang telah dilakukan selama 2021 perlu dipertahankan di 2022 demi mendukung terjadinya tren peningkatan perekonomian Sulawesi Utara.
