
Manado, BeritaManado.com — Stroke adalah kondisi darurat yang serius. Ketika aliran darah ke otak terganggu, entah karena penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah, setiap detik sangat berharga.
Di Indonesia, angka kematian akibat stroke masih tinggi, terutama karena terbatasnya layanan yang tersedia.
Di Sulawesi Utara, RSUP Prof Dr R D Kandou Manado di bawah pimpinan Prof Dr dr Starry Rampengan, Sp.JP(K), FIHA, MARS, mengambil peran penting sebagai pusat rujukan dan pengampu bagi rumah sakit daerah lainnya di wilayah Indonesia Timur.
Mereka berkolaborasi dengan RS Pusat Otak Nasional (PON) dan Kementerian Kesehatan RI untuk mengadakan Workshop Code Stroke dan Trombolisis yang dimulai Selasa (2/9/2025), di Aston Hotel Manado.
Acara ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan wadah untuk mengasah kemampuan tim medis di Sulawesi Utara dalam menangani pasien stroke secara cepat dan tepat.
Kegiatan ini sejalan dengan program nasional Kementerian Kesehatan yang bertujuan meningkatkan layanan stroke di berbagai daerah selama tiga tahun terakhir.
Meski saat ini baru sekitar 50 persen rumah sakit di bawah pengampuhan RSUP Kandou yang berpartisipasi, ini adalah langkah positif dan krusial.
“Tujuan utama workshop ini adalah meningkatkan kemampuan tim medis agar bisa memberikan layanan yang cepat dan tepat bagi pasien,” kata dr Ita Muharim, Sp.S, Ketua Tim Stroke dalam workshop tersebut, di RSUP Kandou, Rabu (3/9/2025).
“Kalau penanganan bisa cepat, pasien punya peluang besar untuk pulih sempurna,” tambahnya.
‘Time is Brain’: Makin Cepat, Makin Baik
Menurut dr Ita, waktu sangat menentukan nasib pasien stroke.
Jika penanganan terlambat lebih dari tiga jam, risiko cacat bahkan kematian meningkat drastis.
Itulah sebabnya, prinsip “Time is Brain” selalu menjadi pegangan bagi tim medis dalam penanganan stroke.
Istilah ini menekankan bahwa setiap detik yang terbuang kala terjadi stroke akan menyebabkan kerusakan dan hilangnya jaringan saraf otak secara permanen sehingga makin cepat penanganan, makin baik hasilnya.
Targetnya sangat ketat, yakni 30 menit pasien masuk IGD, 20 menit hasil ctscan sudah tersedia, dan satu jam kemudian obat sudah harus diberikan.
Dokter Ita menjelaskan, ada dua jenis stroke:
• Stroke iskemik: Terjadi karena penyumbatan pembulu darah.
• Stroke hemoragik: Terjadi karena pendarahan akibat pecahnya pembuluh darah.
“Stroke karena sumbatan bisa langsung diberi obat. Tapi untuk stroke akibat pendarahan, CT scan sangat penting untuk memastikan diagnosis,” jelasnya.
Ia berpesan, jika ada gejala seperti separuh badan lemas atau tiba-tiba tidak bisa bicara, segera bawa pasien ke rumah sakit terdekat yang memiliki fasilitas CT scan.
Gelar Simulasi, Kolaborasi Jadi Kunci
Untuk memperkuat tim penanganan stroke, workshop ini tidak hanya memberikan teori.
