
Melihat fenomena “Gereja” belakangan ini, saya jadi bisa mengerti mengapa orang-orang secara khusus kaum muda sekarang tidak ingin terikat lagi dengan institusi gereja.
Memang tidak banyak namun sangat penting untuk memahaminya.
Kaum muda ingin melintasi batas-batas dinding pemisah yang dikekang oleh aturan-aturan kaku, baku dan sempit.
Mereka yang tidak melihat spiritual yang bertumbuh di dalam Agama atau Gereja akhirnya melepaskan diri dari ikatan tersebut.
Mungkinkah kaum muda keliru memahami Gereja?
Apakah kaum mudah terlalu idealis?
Saya rasa tidak ada salahnya jika kita membayangkan gereja ideal itu.
Justru Gereja dalam pelayanan ibadahnya selalu menekankan karakter gereja tersebut. Namun faktanya tidak selalu berjalan indah.
Akhirnya kita harus memahami Gereja secara faktual seperti organisasi yang mempunyai kepentingan tertentu.
Gereja yang harus memperhatikan pertumbuhan keuangan atau ekonominya agar bisa terus eksis.
Namun kenapa gereja seperti ini secara langsung di jelaskan saja kepada jemaat agar kita lebih realistis dalam melihat hal ini.
Mengapa tarik-menarik di antara gereja sebagai organisasi dan gereja sebagai tubuh Kristus terus berlangsung?
Mungkinkah kita harus meninggalkan perspektif gereja ideal tersebut dan lebih melihatnya sebagai fakta sosial, fakta ekonomi bahkan fakta politik?
Mungkin beberapa tokoh agama menganggap dirinya paling calvinis atau lutheran dengan menganggap merekalah pemegang ajaran reformasi yang benar.
Padahal Allah tidak hanya berdiam dan dikenal dalam ajaran-ajaran “tradisi” namun hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Allah yang hidup dan berkarya bagi semua manusia, itulah Allah yang direpresentasikan di dalam Yesus Kristus.
Pengalaman-pengalaman kehidupan orang Kristen bersama Allah yang hidup tidak bisa ditutupi dengan paham-paham atau ajaran-ajaran yang kaku dan baku.
Gereja “kekeringan roh”
Inilah mengapa gereja menurut saya “kekeringan roh”, inilah salah satu alasan mengapa beberapa anak muda akhirnya mencari “roh yang hidup” itu di tempat lain.
John Swinton, seorang teolog pernah berkata “We can easily end up thinking like Barth but failing to act like Jesus”.
Karl Barth adalah seorang teolog besar pada abad 20.
John ingin mengatakan bahwa banyak teolog atau tokoh-tokoh agama bangga karena telah banyak mengetahui teolog-teolog besar termasuk para tokoh reformasi tapi tidak sesungguhnya menunjukkan karakter Yesus.
Teringat seorang sejarawan dan filsuf terkenal Yuval Noah Harari dalam bukunya “Homo Deus” berkata Agama adalah transaksional dan Spiritualitas adalah perjalanan secara terus menerus dalam pencarian sang Misteri.
Mungkin kaum mudah ini dalam pencarian yang sungguh akan Gereja yang ideal itu di dalam Allah tidak mereka dapatkan pada Agama.
Mungkin terkesan menyerang namun rasanya Gereja yang digambarkan Harari sebagai Agama itu jujur dan sebagaimana adanya.
Pernyataan Yuval memang masih bisa diperdebatkan dan juga telah banyak di kritik.
Namun sebagai seorang sejarawan terkenal, tentunya pernyataan itu bukan semata-mata subjektif belaka.
Sebaiknya, kita dengan rendah hati mendengar dan bersedia menerima kritik untuk membangun. Kritik jika berdasar pada kasih adalah membangun.
Justru gereja yang sehat adalah gereja yang terus “dikritik”. Bukankah reformasi gereja pertama-tama dibangun atas dasar kritik para reformator?
“Gereja” yang alergi dengan kritik biasanya menciptakan “ketaatan buta” bagi pemeluknya.
Awalnya saya juga tidak sepaham dengan pandangan Harari namun rasanya tidak mungkin meniadakan Gereja yang secara riil terus terjadi.
Kita mungkin awalnya takut untuk mencoba menilai gereja secara jujur dan terbuka.
Namun kita harus sadar dan berani mempertanyakannya. Akankah Gereja yang ideal itu bisa berdamai dengan Gereja institusi? Masihkah ada Gereja semacam itu?
Minimal gereja sebagai tubuh Kristus yang tidak terpecah-terpecah.
Penulis: Halomoan Londok
