Opini

Minimalisme Budaya Politik Kandidat Dalam Perspektif Marketing Politik II

Oleh; Frets A. Goraph (Mantan Aktifis GMKI Manado dan Mahasiswa Pascasarjana Fisip Universitas Airlangga)

 

Sambungan

ADVERTISEMENT

Dikaitkan dengan penyebarluaskan arus informasi dalam era globalisasi tersebut terdapat mitos yang mampu menciptakan ketiadaan ruang, jarak dan waktu sebagai akibat kebebasan masyarakat memperoleh informasi secara bebas, langsung tanpa tekanan, tidak ada lagi batasan teritorial, tidak ada lagi sesuatu peristiwa atau kejadian tanpa kecuali yang dapat ditutup-ditutupi oleh setiap negara, lembaga lainnya dan termasuk upaya perorangan ingin menyembunyikan sesuatu informasi demi kepentingan sepihak. Kadang-kadang media menjadi tidak fair ketika ada media layaknya pelacur politik untuk memburuh rente serta tidak memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat, tetapi media lebih memilih melacurkan diri untuk kepentingan memihak pada salah satu capres.

Pandangan (Kotler, 1975) mengembangkan pertukaran teori dalam politik; menurut teori ini partai politik dan kandidat adanya pertukaran janji untuk mendapatkan suara dan melalui sebuah proses komunikasi dengan pemilih dan mencari informasi dari mereka untuk digunakan dalam strategi politik mereka. Dengan cara ini, political marketing menyerupai pemasaran barang ekonomi (Kotler, tahun 1975). Media memasarkan minimalisme informasi atau pesan politik busuk bagi capres fitnahan sebagai implikasi pada proses pertukaran informasi/jasa dengan konsumen perburuan rente. Pemasaran minimalis informasi busuk sebagai pertukaran barang dagangan yang adil bagi strategi politik capres untuk saling menjatuhkan derajat serta martabat kandidat maupun partai politik.

Fenomena politik pilpres beberapa hari kemarin terlalu banyak menunjukkan budaya politik kotor untuk menjatuhkan lawan-lawan politik lainnya dengan membangun pesan politik busuk bagi capres lainnya guna mempengaruhi opini masyarakat untuk tidak memilih capres tersebut karena dinilai kotor. Menyerang citra politik capres lainnya dengan membabi-buta baik yang dilakukan oleh LSM, tim sukses partai politik, relawan dan simpatisan (lihat politik media OBOR RAKYAT mengfitnah capres lain, dan TV ONE disegel pendukung PDIP, dll), maka hal ini secara terang-terangan para tim sukses capres telah mempertontonkan minimalisme budaya politik dalam pemasaran politik masing-masing kandidat. Kemudian yang menjadi masalah pemasaran politik adalah masing-masing tim sukses capres mempertontonkan kebusukan minimalisme budaya politik yang tidak mencerminkan nilai-nilai budaya pancasila dalam berdemokrasi.

Tensi politik pilres semakin tinggi ketika black campaign, negative campaign dan sebentar lagi money politics adalah kuncinya pilres yang tidak bermartabat menciptakan pemimpin busuk juga. Capres tidak lagi melakukan pemasaran politik baik itu dalam membangun citra politik, image serta pesan politik kandidat secara santun agar masyarakat tertarik untuk memilih capres, malahan mereka lebih suka mem-branding capres lain dan mempromosikan fitnahan sebagai hight quality product yang akan laku jika dipasarkan supaya capres lain dibenci pemilih. (*/bersambung)