MANADO – Wacana Rektor Universitas Sam Ratulangi Manado, Prof. DR. Donald Rumokoy, SH MH disandingkan dengan Victor Mailangkay, SH MH untuk maju dalam pemilihan Gubernur Sulawesi Utara tahun 2015, saat ini menjadi perbincangan hangat di kalangan akademisi Unsrat, dan tentunya menuai pro dan kontra.
Sebelumnya, Taufik Tumbelaka yang merupakan pengamat politik dan pemerintahan Sulawesi Utara mengatakan, bahwa Rektor Unsrat perlu melakukan terobosan-terobosan baru guna mendapatkan simpati publik, sebab menurut Taufik, sampai saat ini Rektor belum memberikan kemajuan yang signifikan pagi Unsrat.
Hal tersebut berbeda dengan pandangan akademisi dari lingkungan Unsrat yang notabene sebagai akademis politik pemerintahan, Drs. Welly Areros, MSi
Menurut Areros, Prof. DR. Donald Rumokoy, SH MH mempunyai peluang yang besar. Sebab Rumokoy, menurut Areros adalah seorang yang layak dijadikan figur alternatif dalam pemilihan gubernur Sulawesi Utara tahun 2015.
“Mengapa tidak? Kalau pak Rektor (Prof. Rumokoy-red) diwacanakan sebagai figur alternatif dari figur-figur lain yang telah terdevisit kredibilitasnya di bumi Nyiur Malambai ini,” katanya kepada beritamanado, siang ini.
Areros yang merupakan mantan Anggota DPRD Kota Manado, lebih lanjut memaparkan sudah saatnya masyarakat untuk melihat orang-orang yang kemudian sebagai figur alternatif di tengah kesemrawutan perpolitikan bangsa, terlebih daerah ini.
“Pak Rektor Rumokoy adalah figur alternatif. Sebab kalau dilihat sampai saat ini
terobosan-terobosan yang dilakukan di lingkungan Unsrat cukup objektif dalam
pengembangan Unsrat, dan kalau diwacanakan untuk Pilgub tahun 2015, mengapa tidak untuk seorang rektor jadi gubernur?” katanya bersemangat.
“Apalagi pak rektor Unsrat saat ini juga adalah mantan ketua KPUD Sulawesi Utara, dari hal tersebut menunjukan track record pak rektor yang telah terbukti dan layak untuk diusung di 2015 mendatang,” tutupnya. (gn)

@pembaca pande: ngana ini ada dua orang ato bagimana…….laeng2 ngana pe pernyataan….
Btw…kalo menurut kita, memang Rektor blm membuktikan apa2 kepada rakyat sulut, baik sebagai Rektor maupun sebagai Ketua KPU …..
Setiap orang berhak untuk mencalonkan dan di calonkan, jadi sah2 aja kalau perangkat Akademisi UNSRAT mendukung “Big Boss”, hanya seperti kata tumbelaka, terobosan apa yg pernah dan sedang dilakukan Rumokoy yg bisa menarik hati rakyat?
Coba telaah setiap pemimpin yg berhasil menang dalam Pilkada. Pasti mereka membuat “Sesuatu” yg menarik hari rakyat. mudah2an bukan seperti prof lucky bilang, jangan lantaran DOI.
jadi Seperti kata Syahrini …. mesti SESUATU gitu ^_*
jgn bawa suara rakyat, kalo cuma bawa suara pribadi. kalo ada masalah lapor jo, kalo nda ada gebrakan nda usah dukung. nda usah mo bilang2 mner areros cuma ada cari muka…
Mner Areros cari muka pa Rektor…for pemilihan Dekan Fisip…….dengan Masyarakat Manado so tau Rektor nda ada gebrakan dengan waktu ketua KPU ada masalah……
Statement Drs Willy Areros perlu dikaji apakah statement itu muncul dari identitasnya sebagai “politcal scientist” atau sebagai “politisi kampus” untuk menuai simpati Rektor dalam rangka strateginya untuk mendapar dukungan Rektor….yah sah sah saja tentuntyya. Hak nya. Hanya saja, sebagai Ilmuwan Politik yang sudah Drs dan sudah S2, saya ingin lihat tampilannya bukan sebagai politisi tetapi sebagai Ilmuwan politik.
Rival2 Pak Areros antara lain Drs Maks Rembang MS, Drs Noldi Londa (Master dari ANU Australia), dan beberapa Doktor yang nyanda tau berpolitik tetapi adalah Ilmuwan Politik yang disegani…..Kalu diluar negeri dan di PTN terkemuka di Indonesia…kriteria pertama dalam memilih Rektor dan atau Deklan ialah apakah Si Calon itu “terkemuka” dalam mkarya karya ilmiah dan buah pikiran serta publikasi risetnya…baru diikuti oleh syarat lain (harap jo bukang karena “doi” do e)….syalom.
Ada pepatah dalam perpolitikan sbb: Dont Blow Your Own Trumphet….Ndak Perlu Kita Meniup Trumphet Kita Sendiri…Maksudnya…Janganlag Kita Sendiri Yang Mempromosikan Kita Sendiri…Kalau orang Unsrat yang mendukung Rektor…yah so nyanda heran…..yang bagus kalu torang sukses sehingga mendengar bagaimana orang diluar Unsrat yang mempromosikan….bagitu toch Pak Willy dalam Ilmu Politik toch maaf ..koreksi akang kalau kita salah…..
Saya baca beritamanado.com tgl 5 agustus 2011, rektor mengatakan biaya utk masuk kedokteran hanya 100 jt rupiah. Tapi pada kenyataannya dilapangan bahkan bisa 200 jtan.
Apa pak Rektor tidak mengecek proses penerimaan mahasiswa?
Masih lingkup Unsrat saja sudah tidak bisa mengontrol salah satu fakultas-nya, bagaimana mengatur kabupaten/kotamadya yg begitu luas?
Kalau mau maju jadi gubernur harus lebih cermat terutama pengawasan dari pegawainya.