Agama dan Pendidikan

Komunikasi Sosial Sebagai Wajah Pewartaan Gereja di Era Digital

Komunikasi Sosial Sebagai Wajah Pewartaan Gereja di Era Digital
Yulianus Minggu

Oleh: Yulianus Minggu

(Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira,Kupang)

Perkembangan teknologi yang sangat pesat masa kini memberikan suatu inspirasi, inisiatif dan kontribusi yang pesat pula kepada berbagai instansi massa yang memiliki daya guna dan pengaruhnya dalam kehidupan sosial.

ADVERTISEMENT

Mengakses data-data valid untuk menambah wawasan dengan instrumen digital, ternyata mampu membangun minat masyarakat untukmengakses informasi yang ingin dicapai.

Baik informasi yang faktual maupun hoaks bisa ditampilkan di berbagai media.

Dalam hitungan detik informasi disiarkan dengan cepat dan siap untuk disaksikan oleh publik yang memiliki minat untuk menyimak.

Dalam dunia digital, orang-orang bebas mengekspresikan intensinya untuk menyebarkan informasi atau pun alih-alih memonetisasikannya demi mendapat uang dari konten-konten yang disiarkan.

Apabila dilihat dari perspektif ini, ruang digital tidak lagi hanya memberi informasi kepada khalayak umum, namun dapat menghasilkan uang tunai darinya.

Itulah salah satu fenomena kecil yang ada dalam ruang digital dan manfaat dari penggunaannya.

Ruang digital dalam pelaksanaannya secara implisit mengedepankan visi dan misi bagi semua orang yang sudah mengenal budaya baru tentang perkembangan digital.

Dengan adanya kemajuan teknologi, muncul peningkatan ruang gerak yang intens untuk mengekspos segala sesuatu.

Ruang digital tidak memiliki batas untuk berkontribusi dalam membantu setiap pekerjaan manusia di zaman ini; memberi informasi, pelajaran, tutorial untuk hal-hal baru, bahkan kontribusinya yang lebih luas.

Dilihat dari segi kebutuhan, Gereja Katolik tidak menutup diri terhadap penggunaan sarana digital, terlebih khusus dalam pengembangan iman umat. Lewat sarana digital juga, Gereja dapat melangsungkan penyiaran dalam perwartaan injil dan kabar sukacita bagi umat.

Sekali lagi bisa dikatakan bahwa era digital tidak membatasi waktu untuk mengakses segala sesuatu. Semua tersedia dalam jaringan digital.

Menyampaikan informasi termasuk bagian dari pekerjaan penting dewasa ini. Hal ini bukan sekedar memberitakan persoalan, tetapi juga membuka wacana ruang publik agar persoalan-persoalan tertentu mengundang dan mendapat respect serta penanggulangan yang tepat terlebih khusus untuk wacana gereja.

Selain stasiun televisi, Gereja mewajibkan umatnya untuk menyadari kehadiran “Komsos” (Komunikasi Sosial) dalam pewartaan iman berbasis media digital.

Di dalam Dekrit Konsili Vatikan II, Gereja menyambut dan menyoroti dengan minat yang secara khusus sarana-sarana komunikasi apabila digunakan dengan tepat untuk kebaikan semua umat manusia (Inter Mirifica, art. 1-2).

Komsos (komunikasi sosial) dihadirkan kuntuk membangun persekutuan dan mendorong kemajuan manusia dan beradaptasi dengan budaya manusia modern.

Pewartaan Injil dalam ranah digital tidak membatasi kapasitas manusia dalam memahami injil dan kolektivitas gereja katolik saja, melainkan terbuka untuk semua dalam proses pemahaman, atau praktik katekese, dan pendalaman iman.

Media digital juga berperan penting dalam keberlangsungan hidup mengereja, salah satunya ialah persekutuan umat Tuhan.

Kehadiran komsos selaku media komunikasi memberi manfaat bagi wejangan katekese kepada umat, panduan ibadat dan mungkin pengetahuan baru bagi yang beragama

lain.

Peran komsos di satu sisi, menjalankan tugasnya sebagai media pewartaan Injil dan juga membangun persekutuan umat, sehingga umat merasa pentingnya menghadirkan identitas keberimanannya di era digital ini.

Umat Katolik di era digital ini, mengalami tantangan yang sangat serius “karena minimnya pengetahuan tentang ajaran iman Katolik,” maka tak heran jika banyak umat yang meninggalkan imannya.

Dengan tujuan inilah, kehadiran komsos menjawabi dan memenuhi kebutuhan iman umat lewat ruang digital.

Siaran chanel Komsos di satu sisi memberikan kontribusi yang luar biasa bagi umat dalam mengakses dan memahami “katekese, ajaran gereja, dan tata liturgi gereja katolik sendiri.”

Selain itu, komsos juga berperan sebagai jembatan antara hierarki gereja dan umat.

Melalui media sosial, website paroki, YouTube, maupun siaran langsung misa, umat dapat merasa lebih dekat dengan gereja dan para pelayan pastoral.

Gereja tidak lagi hanya hadir dalam ruang fisik gedung gereja, tetapi juga menjelma menjadi “gereja digital” yang hadir di tengah kehidupan sehari-hari umat.

Dengan demikian, relasi antara gereja dan umat tidak bersifat kaku, melainkan komunikatif dan partisipatif.

Komsos juga memberi ruang bagi keterlibatan aktif kaum muda dalam kehidupan menggereja.

Generasi muda yang sangat akrab dengan dunia digital dapat dilibatkan sebagai kreator konten iman, pengelola media gereja, maupun sebagai pewarta injil di era digital.

Hal ini bukan hanya menumbuhkan rasa memiliki terhadap gereja, tetapi juga mengafirmasi bahwa pewartaan iman adalah tugas bersama seluruh umat beriman, bukan hanya para uskup, imam dan biarawan-biarawati.

Namun demikian, penggunaan media digital dalam pewartaan iman juga menuntut sikap bijak dan kritis.

Gereja perlu memastikan bahwa konten yang disebarkan tetap berlandaskan ajaran yang benar, etika komunikasi, serta tidak terjebak pada sensasi atau popularitas semata.

Pewartaan iman harus tetap berorientasi pada nilai kebenaran, kasih dan keselamatan jiwa, bukan sekadar jumlah penonton atau pengikut.

Umat di era digital ini, ditantang untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif media rohani, tetapi mampu menghayati dan menerapkan nilai-nilai injil dalam kehidupan nyata.

Media digital seharusnya menjadi instrumen yang mengantar umat pada perjumpaan yang lebih mendalam dengan Tuhan dan sesama, bukan malah menjauhkan manusia dari relasi personal dan kehidupan nyata dalam komunitas.

Akhirnya, “komsos sebagai wajah pewartaan gereja di era digital” menegaskan bahwa gereja selalu dipanggil untuk membaca tanda-tanda zaman.

Gereja tidak boleh tertinggal, tetapi juga tidak boleh kehilangan jati dirinya. Dengan memanfaatkan teknologi digital secara bijaksana, gereja dapat terus menjalankan perutusannya untuk mewartakan kabar sukacita kepada segala bangsa, termasuk dalam ruang medsos yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern.

Komsos bukan hanya sekadar alat bantu teknis, melainkan bagian integral dari misi gereja masa kini.