
Belang – Sekolah Dasar Negeri 1 Belang yang dulunya disegani, kini berubah wajah. Meski secara fisik gedung sekolah sedikit lebih megah, namun kinerja kepala sekolah dan guru sama-sama menuai sorotan warga. Menurut informasi warga sekitar dan juga murid sekolah tersebut, Kepala Sekolah sering datang terlambat. Citra ini semakin tercemar dengan perilaku guru yang kabarnya menjalankan bisnis sampingan di dalam ruang kelas.
Menurut seorang pelajar kelas 5 sebut sana Bunga, bahwa sang Kepsek Haryati Losung sering datang jam 9 pagi, sementara guru-guru lainnya ada yang tepat waku namun ada juga yang datang jam 8. jika benar demikian, maka hal ini sama sekali tidak mencerminkan karakteristik sebagai seorang pemimpin.
Semetnara komentar warga terkait bisinis sampingan di dalam ruangan kelas itu juga turut diakui oleh beberapa murid termasuk Bunga. Di dalam kelas ada guru yang berjualan, nasi kuning, es dan snack. Imbasnya, waktu istirahat sering kali murid sudah tidak menikmatinya diluar kelas, lantara begitu bel berbunyi guru yang pnya bisnis sampingan sudah menghadang dengan jualan mereka.
Kabar lain juga mengatakan bahwa terkadang jika jualannya tidak laku semua, terpaksa urid juga jadi korbannya. Seakan ada sedikit paksaan, guru dengan profesi ganda memberikan jajanannya kepada murid-murid dengan status ‘hutang’ alias nanti bayar besok atau kemudian hari. Hal ini turut menjadi keprihatinan para alumni sekolah tersebut.
Agustam Paturusi, salah seorang alumni sekolah tersebut mengaku sangat prihatin mendengar kabar tersebut. Menurutnya, saat masih bersekolah dulu, mulai dari jam masuk sekolah hingga pulang tidak ada hal seperti itu. Disiplin sangat dikedepankan. Untuk urusan perut, para siswa difasilitasi dengan kantin. Itupun bukan milik kepala sekolah atau salah satu guru.
“Sayang kalau guru sudah seperti itu. Nantinya murid bukan belajar bagaimana bumi ini tercipta dari berbagai teori, berhitung, perkalian dan sebagainya, malah yang diajarkan adalah bagaimana menjadi rentenir. Semua orang tahu, rentenir itu seseorang yang puny aiming-iming meminjamkan uang atau memberikan barang dengan opsi hutang. Namun akhirnya nasabahnya dililit dengan bunga yang tinggi,” tuturnya. (Frangki Wullur)

Berita Manado.Com semakin oke saja! Ku acungkan jempol 100 buat penulisnya.
Saya sependapat sekali dengan kondisi di daerah MITRA. Memang sangat memprihatinkan sekolah2 didesa. Tetapi, ironisnya dg pemerintahan Bupati baru sekarang, masih susah juga diubah kebiasaan buruk tersebut. Semoga ada teguran untuk kepala DIKNAS MITRA dari pimpinan Bapak Bupati James Sumendap. Seolah-olah seperti nepotisme, tidak bisa disentuh oleh hukum dan keadilan. Apalagi saat saya tahu ada beberapa sekolah di daerah Liwutung (SDN 1 Liwutung-Tolombukan) memiliki kondisi yg buruk. Anak2 dilepas dan dibiarkan tanpa perhatian guru/kepala sekolah. Ironisnya karna ada anak anggota dewan di sekolah itu dan dukungan beberapa orang di aparat DIKNAS sehingga sekolah itu memiliki kepala sekolah yg tak tergantikan. Seolah2 gereja jaman sekarang hanya topeng. Sungguh memalukan apalagi kita perantau dinegeri orang mau dibilang apa torang orang Manado seperti itu kenyataannya anak2 yg pintar sulit mendapat juara/ranking setingkat kecamatan/kabupaten, ujung2nya bukan anak anggota dewan atau anak guru. Pdahal torang so tahu, itu salah apakah inti ajaran kekristenan didalam GMIM geraja seperti itu dianggap biasa? meang di kampung sendiri tapi di kampung orang/negri orang otomatis so kalah. Makatak heran, jiwa korupsi, kolusi dan nepotisme sudah mendarah daging. Terlebih lagi torang mayoritas kristen. Trims penulis smoga kritikan ini bermanfaat dan dapat dibaca oleh smua kalangan termasuk Bapak Bupati MITRA.