
Editor: Sri Surya | Minahasa
Perkembangan teknologi digital membuka ruang baru dalam penyelenggaraan edukasi kesehatan, termasuk bagi ibu hamil.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Peningkatan Partisipasi Ibu Hamil dalam Kelas Ibu Hamil melalui Teknologi Digital: Penguatan Peran Kader dan Tenaga Kesehatan” dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Tateli.
Kegiatan ini dirancang sebagai inovasi dalam meningkatkan akses dan partisipasi ibu hamil terhadap edukasi kesehatan.
Pemanfaatan teknologi digital memungkinkan proses pembelajaran berlangsung lebih fleksibel, tanpa sepenuhnya bergantung pada pertemuan tatap muka.
Dalam pelaksanaannya, kelas ibu hamil dilakukan secara daring melalui WhatsApp Group selama empat kali pertemuan.
Peserta tidak hanya terdiri atas ibu hamil, tetapi juga melibatkan bidan desa dan kader.
Kehadiran tenaga kesehatan dan kader menjadi bagian penting dalam membangun ruang edukasi yang komunikatif sekaligus memperkuat pendampingan kepada ibu hamil.
Setiap pertemuan dilengkapi dengan materi edukasi dalam bentuk e-booklet dan video.
Secara keseluruhan, tim pengabdi menyiapkan empat e-booklet dan empat video edukasi yang diberikan secara bertahap sesuai rangkaian pembelajaran.
Pemilihan media digital tersebut memberikan kesempatan kepada ibu hamil untuk memperoleh materi melalui perangkat yang sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Materi juga dapat dipelajari kembali sehingga proses edukasi tidak berhenti ketika pertemuan selesai.
Kegiatan kelas ibu hamil tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong terjadinya interaksi.
Hal tersebut terlihat dari keaktifan ibu hamil dan kader dalam mengajukan pertanyaan selama proses pembelajaran.
Diskusi menjadi bagian penting karena memungkinkan peserta menyampaikan berbagai hal yang ingin diketahui dan memperoleh penjelasan dari pihak yang memiliki kompetensi.
Dengan demikian, WhatsApp Group tidak sekadar menjadi media penyampaian informasi, tetapi berkembang menjadi ruang komunikasi dan pembelajaran bersama.
Sebelum rangkaian kelas ibu hamil dilaksanakan, tim pengabdi terlebih dahulu melakukan pertemuan secara offline bersama pihak terkait.
Pertemuan awal tersebut menjadi bagian dari koordinasi sekaligus membangun komitmen bersama agar program dapat berjalan secara terarah.
Penguatan peran kader menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam kegiatan ini.
Kader memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan masyarakat dan dapat menjadi penghubung antara ibu hamil dengan tenaga kesehatan.
Dalam rancangan kegiatan PkM, penguatan kader juga diarahkan agar kader dapat berperan sebagai fasilitator dan membantu menjaga keberlanjutan kelas ibu hamil berbasis digital.
Sementara itu, tenaga kesehatan tetap menjadi sumber informasi utama dalam memastikan materi yang diterima peserta sesuai dengan prinsip pelayanan kesehatan ibu.
Kolaborasi antara akademisi, bidan, kader, pemerintah desa, dan ibu hamil menjadi kekuatan penting dalam pelaksanaan program.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan output PkM berupa video edukasi kepada pihak Puskesmas Tateli.
Penyerahan tersebut diwakili oleh Bidan Aulia Ayu Candra, S.Keb. dan disaksikan oleh Kepala Desa, ibu hamil, serta kader.
Penyerahan video edukasi menjadi bagian penting dari keberlanjutan program.
Luaran yang dihasilkan tidak berhenti sebagai produk kegiatan, tetapi diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh pihak puskesmas sebagai media pendukung dalam memberikan edukasi kepada ibu hamil.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa inovasi dalam edukasi kesehatan tidak selalu harus menggunakan teknologi yang kompleks.
Pemanfaatan media digital yang sederhana, mudah digunakan, dan familiar bagi masyarakat dapat menjadi jembatan untuk mendekatkan informasi kesehatan kepada ibu hamil.
Lebih dari sekadar menghadirkan materi melalui layar gawai, kelas ibu hamil berbasis digital ini berupaya membangun partisipasi, komunikasi, dan pemberdayaan.
Ibu hamil diberikan ruang untuk belajar dan bertanya, kader diperkuat perannya, sedangkan tenaga kesehatan tetap menjadi bagian penting dalam memberikan pendampingan.
Melalui kolaborasi tersebut, kelas ibu hamil diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan edukasi sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi ruang pembelajaran yang berkelanjutan.
Teknologi digital menjadi sarana, sementara keterlibatan manusia ibu hamil, kader, bidan, pemerintah desa, dan akademisi menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan edukasi kesehatan ibu yang lebih dekat, adaptif, dan berkesinambungan.
Dengan demikian, kelas ibu hamil berbasis digital bukan sekadar perubahan dari ruang tatap muka ke ruang virtual, melainkan sebuah langkah untuk menghadirkan edukasi yang lebih fleksibel, partisipatif, dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. (***)
