“Dalam proses belajar termasuk soal design thinking, peran orangtua dan tenaga pendidik untuk menjadi mentor dan fasilitator sangatlah penting,” kata Razi.
Razi menambahkan, adapun proses belajar tersebut dapat dimulai oleh siswa-siswi dengan belajar sendiri terlebih dahulu ilmu tersebut.
Kemudian diskusi dengan ahlinya dalam interaksi kelas, dilanjutkan dengan praktek nyata ilmu yang dipelajari tersebut, lalu ditutup dengan evaluasi.
“Semua ini akan ditemui saat program HiLo Teen Design Thinking Marathon 2022,” tambah Razi Thalib.
Dalam pembukaannya, Ade Supriyatna, M.M. selakuKoordinator Pengembangan Strategi dan Kebijakan Pusat Prestasi Nasional turut mendukung pembelajaran dan penerapan design thinking.
Dikatakan Ade, hal ini untuk menghadapi tantangan masa depan demi menciptakan sumber manusia unggul untuk Indonesia yang lebih baik.
“Ini adalah suatu kegiatan yang sangat positif, masa pandemi bukan suatu tantangan untuk anak muda berkarya dan menghasilkan sesuatu,” ucap Ade Supriyatna.
(***/srisurya)
