
Manado, BeritaManado.com – Pemungutan Suara Ulang (PSU) yang akan digelar serentak di Sulawesi Utara, pada Sabtu 27 April 2019 akan menyebabkan sejumlah hal yang berpotensi tidak berprosesnya pemilu dengan baik.
Menurut Dr. Ferry Liando, ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada pelaksanaan PSU yang akan digelar nanti.
“Pertama, pemilih yang akan hadir di TPS kemungkinan tidak akan sama dengan jumlah ketika pada pencoblosan pertama. Ada rasa bosan, ada yang lebih memilih untuk istirahat di rumah dan ada yang kemungkinan lebih memilih bekerja,” kata Ferry Liando.
Menurut Ferry Liando, ada berbagai kegiatan yang akan digelar pada saat PSU sabtu nanti yang akan mengakibatkan jumlah pemilih semakin berkurang.
“Disatu sisi ada sebagian pemilih yang harus menjalankan ibadah di gereja seperti yang beragama Advent dan kegiatan paskah remaja GMIM sebagai pembina. Tentu mereka tidak bisa datang,” ungkap Ferry Liando.
Lebih lanjut dikatakan Ferry Liando, dalam kondisi tertentu keadaan ini bisa saja akan berbalik jika permainan politik uang dibiarkan.
Bisa saja akan banyak yang datang memilih apabila ada calon anggota legislatif (caleg) yang meminta masyarakat datang ke TPS dengan imbalan uang atau barang.
“Caleg yang berpotensi akan bermain uang adalah caleg yang menurut rekapitulasi sementara berada di posisi Runner Up. Caleg ini memiliki banyak suara namun tidak kebagian kursi akibat kalah jumlah suara tipis dengan caleg yang mendapatkan kursi,” ujar Ferry Liando.
Dijelaskan Ferry Liando, jika dalam satu partai politik (parpol) kebagian 3 kursi, maka caleg yang berpotensi bermain curang adalah caleg peraih suara terbanyak urutan 4.
“Apalagi caleg peraih suara terbanyak 3 dan 4 selisihnya sangat tipis. Sehingga caranya adalah berusaha melampaui jumlah suara caleg diatasnya dengan memanfaatkan proses pemungutan suara ulang,” ucap Ferry Liando.
Bukan hanya posisi celeg yang berubah, namun perolehan jumlah kursi parpol bisa saja berubah pasca PSU.
“Pengalaman di pemilu 2014, PSU di Maluku utara, kursi PAN berkurang dan berpindah ke NasDem pasca PSU. Sehingga perlu diwaspadai bersama jangan sampai ada cara-cara yang tidak elok pada PSU nanti. Hal yang perlu juga di waspadai adalah keengganan para KPPS untuk bertugas kembali,” ungkap Ferry Liando.
Pekerjaan cukup beresiko sehingga tidak mau disibukan lagi.
Pengalaman pemilu 2014, ada KPPS yang tidak hadir karena caleg yang didukungnya sudah menang sehinga tidak mau ada PSU.
Reaksi atas kekerabatan itu, dia tidak mau bertugas lagi.
“Hari ini KPU wajib mendata kembali, apakah semua KPPS di TPS yang melaksanakan PSU apakah masih bersedia bertugas. Kalau tidak perlu diantisipasi untuk diganti,” pungkas Ferry Liando.
(***/MiltonPantouw)
