
Penulis: Alfrits Semen
Sampah plastik tak hanya dipandang sebagai persoalan lingkungan di Desa Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Minahasa Utara.
Dalam waktu dekat, sampah justru akan dijadikan “alat bayar” untuk mendapatkan pendidikan.
Pemerintah Desa Tumaluntung menyiapkan program kursus Bahasa Inggris gratis bagi anak-anak tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).
Menariknya, peserta tidak perlu mengeluarkan uang untuk mengikuti kursus.
Mereka cukup membawa dan menyetorkan sampah plastik.
Program tersebut dirancang bekerja sama dengan kelompok Bank Sampah Baciraro, yang selama ini bergerak dalam pengelolaan dan pemanfaatan sampah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Hukum Tua Desa Tumaluntung, Richard S. Kamagi, menjelaskan, program tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris anak-anak, tetapi juga membangun kepedulian mereka terhadap lingkungan.
“Bayarnya pakai sampah plastik,” ujar Richard, Rabu (16/9/2026).
Program ini menyasar anak SD hingga SMP dengan fokus pada kemampuan berbahasa Inggris, termasuk speaking dan public speaking.
Menurut Richard, kemampuan tersebut penting sebagai bekal anak-anak Tumaluntung ke depan, terlebih desa tersebut tengah mengembangkan potensi sebagai desa wisata.
Anak-anak diharapkan memiliki kemampuan berkomunikasi yang lebih baik ketika suatu saat harus berhadapan dengan wisatawan atau mengikuti berbagai kegiatan yang melibatkan pengunjung dari luar daerah maupun mancanegara.
“Karena Tumaluntung juga desa wisata yang mungkin bisa jadi bekal kalau ada kunjungan-kunjungan wisatawan. Jadi anak-anak dari SD sampai SMP dibekali kemampuan speaking dan public speaking yang baik lewat kursus Bahasa Inggris,” jelasnya.
Pelaksanaan program masih dalam tahap persiapan dan direncanakan dimulai dalam waktu dekat.
Dikatakan, pemerintah desa juga telah menyampaikan rencana tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara.
Ia berharap, program ini menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia sekaligus memperkuat gerakan pengelolaan sampah dari tingkat desa.
“Konsepnya sederhana. Anak mendapatkan ilmu, mendapatkan generasi yang lebih siap, sementara lingkungan mendapatkan manfaat dari berkurangnya sampah plastik,” tandanya.
