Manado – Data dari LIPI hari ini bahwa hampir 95 persen pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah pecah kongsi atau konflik.
Menurut pengamat politik Dr Ferry Liando, besarnya prosentase pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah yang konflik di Indonesia termasuk Sulut disebabkan karena adanya koalisi yang dibangun hanya atas dasar memperkuat dukungan politik pada saat pemilihan kepala daerah semata.
“Koalisi tidak dibangun atas dasar yang menjadi tujuan utama yaitu stabilitas pemerintahan. Akibatnya stabilitas pemerintahan tidak bertahan lama.
Di Sulut hampir semua daerah mengalami itu. Mulai dari retaknya hubungan SH Sarundajang dan Freddy Sualang, Hanny Sondakh dan Lahindo di Bitung, RML dan Ventje Tuela di Minsel, Djelantik dan Tatong Bara di Kotamobagu, Vreeke Runtu dan Jantje Sajow di Miniahasa, Jantje Sajow dan Ivan Sarundajang di Minahasa, Vicky Lumentut dan Harley Mangindaan di Manado, Tonny Supit dan Piet Kuera di Sitaro, Sehan Landjar dan Medy Lensun di Boltim, Jeverson Rumajar dan Sjennie Watulangkow di Tomohon, Telly Tjanggulung dan Jeremia Damongilala di Mitra”, tutur Liando.
Idealnya bagi negara demokrasi lanjut Liando, koalisi dibentuk dalam rangka stabilitas pemerintahan bukan koalisi di bangun hanya dalam rangka memperkuat basis dukungan. (**/jerrypalohoon)
