Tetapi di tengah meningkatnya intoleransi dan politik identitas di berbagai negara, pesan tersebut justru memiliki makna yang sangat dalam.
Joune Ganda tidak hanya berbicara mengenai program pemerintah.
Ia berbicara mengenai filosofi pembangunan daerah.
Ia menegaskan perdamaian bukan agenda pemerintah semata, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat.
Bahwa pembangunan tidak mungkin berjalan tanpa harmoni sosial.
Bahwa pemerintah daerah memiliki tanggung jawab membangun jembatan dialog ketika dunia semakin terpolarisasi.
Pesan itu penting karena sering kali keberhasilan pembangunan hanya diukur melalui angka investasi, pertumbuhan ekonomi, atau pembangunan infrastruktur.
Minahasa Utara mengingatkan fondasi dari semua itu adalah stabilitas sosial.
Tanpa kepercayaan, tidak ada investasi.
Tanpa toleransi, tidak ada pembangunan.
Tanpa perdamaian, tidak ada masa depan.
Karena itu, keberhasilan Minahasa Utara masuk lima besar dunia tidak boleh dipandang sekadar sebagai prestasi seremonial.
Ini adalah pengakuan internasional bahwa praktik toleransi yang selama ini dibangun di daerah memiliki nilai universal.
Bahwa pengalaman sebuah kabupaten di Sulawesi Utara dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah lain di dunia.
Apakah Minahasa Utara akan menjadi pemenang UCLG Peace Prize 2026?
Itu adalah keputusan dewan juri.
Namun ada satu hal yang sudah pasti.
Di antara lebih dari 80 peserta dari berbagai penjuru dunia, Minahasa Utara telah berhasil membuat dunia menoleh.
