Di kawasan yang rentan konflik, pemerintah daerah mengajak masyarakat, tokoh adat, perempuan, dan pemuda untuk bersama-sama mengelola sumber daya air secara transparan dan berkelanjutan.
Semua finalis memiliki keunggulan.
Merekela membawa persoalan nyata yang dihadapi masyarakat dunia saat ini.
Namun di antara berbagai pendekatan tersebut, ada satu hal yang membuat Minahasa Utara tampil berbeda.
Minahasa Utara berbicara tentang sesuatu yang sering dianggap selesai padahal sesungguhnya harus terus dirawat yakni toleransi.
Di banyak belahan dunia, konflik tidak lagi selalu dipicu oleh perebutan wilayah atau sumber daya.
Konflik lahir dari ketidakpercayaan, prasangka, polarisasi identitas, dan kegagalan membangun dialog di tengah keberagaman.
Di sinilah Minahasa Utara menawarkan pelajaran penting.
Kabupaten ini tidak menunggu konflik terjadi untuk bertindak.
Pemerintah daerah justru membangun sistem pencegahan sejak awal melalui pendidikan toleransi, dialog lintas agama, dukungan terhadap komunitas keagamaan, serta keterlibatan aktif tokoh agama dalam kehidupan publik.
Pendekatan seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun justru karena kesederhanaannya, ia menjadi relevan bagi banyak daerah di dunia.
Perdamaian yang dibangun Minahasa Utara bukan perdamaian yang lahir setelah konflik.
Ia adalah perdamaian yang dibangun sebelum konflik muncul.
Inilah yang sesungguhnya menjadi inti dari pembangunan perdamaian modern.
Adalah pencegahan.
Dalam presentasinya di hadapan forum dunia di Tangier, Maroko, Bupati Minahasa Utara Joune Ganda menyampaikan sebuah pesan yang layak dicatat.
“Keberagaman bukanlah tantangan, melainkan kekuatan.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
