Berita Utama

Bunda PAUD Minahasa Utara Curi Perhatian di Apresiasi PAUD Nasional 2025: Dari Tonsea untuk Indonesia

Bunda PAUD Minahasa Utara Curi Perhatian di Apresiasi PAUD Nasional 2025: Dari Tonsea untuk Indonesia
Rizya Ganda Davega di Puncak Apresiasi Bunda PAUD Nasional 2025. Foto: Ist

BeritaManado.com — Sorotan kamera dan tepuk tangan hangat mengiringi langkah Bunda PAUD Minahasa Utara, Rizya Ganda Davega, saat ia memasuki ballroom The Sultan Hotel & Residence Jakarta.

Dalam Rizya Ganda Davega, bunda PAUD minut, Rizya bukan sekadar tamu undangan, ia tampil sebagai inspirasi di Puncak Apresiasi Bunda PAUD Nasional 2025.

Dengan batik elegan di hari pertama dan kebaya nasional di hari kedua, Rizya membawa wibawa sekaligus kehangatan seorang pendidik sejati.

Selempang “Bunda PAUD” yang melingkar di bahunya bukan sekadar simbol, melainkan bukti nyata dari dedikasi panjangnya membangun pendidikan anak usia dini di Tanah Tonsea.

“Usia 0–6 tahun adalah masa emas yang menentukan arah tumbuh kembang anak,” ujarnya penuh semangat.

Kalimat sederhana itu menggambarkan filosofi yang Rizya pegang teguh: masa kecil bukan sekadar fase bermain, tapi fondasi masa depan bangsa.

Ia menekankan pertumbuhan otak anak mencapai 50 persen sebelum usia empat tahun, dan layanan PAUD berkualitas jadi kunci untuk menstimulasi potensi itu.

Rizya tak berhenti pada teori. Ia menggerakkan komunitas, menggandeng keluarga, dan mengajak semua pihak untuk peduli.

“Keluarga adalah stimulus pertama anak. Bahkan selama anak di PAUD, pendampingan dari orang tua terutama ibu sangat penting,” katanya.

Komitmennya sejalan dengan misi besar Kementerian Pendidikan melalui Direktorat Jenderal PAUD, Dikdasmen, yang menggelar ajang ini.

Dirjen Gogot Suharwoto turut menegaskan urgensi peran Bunda PAUD dalam memperluas akses pendidikan bermutu.

Data yang ia paparkan cukup menggugah: dari 17,7 juta anak usia 3–6 tahun di Indonesia, baru 47 persen yang bersekolah di PAUD.

Artinya, 2,8 juta anak usia 5–6 tahun belum tersentuh layanan pra-sekolah.

“Pembenahan sarana, prasarana, dan peningkatan kualitas layanan harus menjadi prioritas nasional,” tegas Gogot di hadapan para peserta.

Bagi Rizya, angka itu bukan sekadar statistik tapi panggilan.

Ia percaya bahwa dengan sinergi pemerintah, pendidik, dan keluarga, Minahasa Utara bisa menjadi contoh daerah yang membentuk generasi emas Indonesia.

“Kita tidak hanya mendidik anak cerdas, tapi juga berkarakter dan berbudaya,” tutupnya dengan senyum optimistis.

Di tengah gemerlap acara nasional itu, sosok Rizya Ganda Davega membuktikan satu hal: dari Minahasa Utara, semangat perubahan bisa menggema untuk seluruh negeri.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara