
Manado, BeritaManado.com — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara mencatat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2025 mencapai 5,99 persen, atau setara 85,37 ribu orang dari total 1,42 juta angkatan kerja.
Angka ini sedikit meningkat dibandingkan Agustus 2024, namun menurun jika dibandingkan dengan Februari 2025.
Kepala BPS Sulawesi Utara, Aidil Adha, S.E., M.E., menjelaskan bahwa secara tahunan, Sulawesi Utara masih menunjukkan tren positif di pasar tenaga kerja.
“Selama periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025, terdapat penyerapan tenaga kerja sebanyak 33,50 ribu orang atau tumbuh 2,57 persen. Ini menandakan bahwa perekonomian daerah masih mampu menciptakan lapangan kerja baru,” ungkapnya dalam penyampaian siaran pers di Kantor BPS Sulut, Rabu (5/11/2025).
Dari total penduduk usia kerja sebanyak 2,12 juta orang, sebanyak 1,42 juta orang tergolong sebagai angkatan kerja, sedangkan sisanya 695,19 ribu orang termasuk bukan angkatan kerja (seperti pelajar, ibu rumah tangga, dan lainnya).
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga meningkat menjadi 67,21 persen, naik dari 66,07 persen pada Agustus 2024.
Menurut Aidil, peningkatan TPAK tersebut mencerminkan semakin banyak penduduk usia kerja yang aktif dalam kegiatan ekonomi.
“Baik laki-laki maupun perempuan menunjukkan peningkatan partisipasi kerja selama dua tahun terakhir. Ini menunjukkan optimisme tenaga kerja terhadap kondisi ekonomi,” ujarnya.
Dari sisi wilayah, Kota Manado mencatat TPT tertinggi sebesar 8,51 persen, sedangkan Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) menjadi yang terendah dengan 2,41 persen.
Meski begitu, Aidil menegaskan bahwa seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Utara mengalami perbaikan struktur ketenagakerjaan.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di semua daerah bergerak, meski belum merata sepenuhnya,” katanya.
Dari sisi pendidikan, pengangguran masih didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan TPT mencapai 12,28 persen.
Sementara itu, lulusan SMA tercatat 7,73 persen dan perguruan tinggi sebesar 7,26 persen.
“Tingginya pengangguran lulusan SMK menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan pasar kerja,” tambah Aidil.
Dalam lapangan usaha, sektor pertanian, perdagangan besar dan eceran, serta industri pengolahan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar.
Namun dibandingkan Agustus 2024, tenaga kerja di sektor pertanian menurun, sementara sektor perdagangan dan industri pengolahan justru meningkat.
BPS juga mencatat bahwa proporsi pekerja formal meningkat menjadi 45,44 persen, didorong oleh bertambahnya buruh, karyawan, dan pegawai tetap.
“Tren ini menunjukkan arah yang positif menuju ketenagakerjaan yang lebih produktif dan berdaya saing,” tutur Aidil.
