
Kolongan – Sudah sejak turun temurun dari generasi ke generasi, balapan roda sapi di Minahasa Utara dilaksanakan, bahkan sudah menjadi budaya lokal di masyarakat.
Revol Runtukahu satu diantara pemilik sapi pacu, mengakui sudah sejak kecil menekuni balapan roda sapi, menurutnya hal itu juga dilakukan oleh opa dan orangtuanya.
“Sekarang saya sudah 55 tahun, dulunya saya joki, kini jadi pemilik sapi pacu saja, biar joki muda yang bawa,” kata Runtukahu pada beritamanado.com
Kebiasaannya itu menjadi hobby baginya, ia pun tak merasa rugi ketika merawat sapi pacu, dengan memberikan makanan dan memberikan latihan pacu pada sapinya.
Runtukahu menamakan Matuari untuk sepasang sapi pacunya, ia mendapatkan sapi itu dibeli di Gorontalo dengan harga Rp 40 juta.
“Matuari (sapi) kini sudah lima tahun, sudah beberapa kali di pacu,” kata Runtukahu
Untuk tetap melestarikan olahraga lokal ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Minahasa Utara, menyelenggarakan Lomba Pacuan Roda Sapi dalam rangka HUT ke-10 Kabupaten Minahasa Utara di arena pacuan roda sapi Mega Kaput, Desa Kolongan, Kecamatan Kalawat
Dra Femmy Pangkerego MPd ME sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Minahasa Utara, mengakui diselenggarakan lomba pacuan roda sapi juga menyongsong Kabupaten Minut sebagai daerah tujuan wisata 2015.
Lomba pacuan roda sapi ini merupakan olahraga memerlukan ketangkasan, keberaniann tiggi, dan menhibur, dijadikan budaya kearifan dan diagendakan tahunan dalam rangka memporomisakan wisata budaya dan daya tarik wisatawan lokal mancanegara.
“Budaya pariwisata kita akan lebih dikenal dan wisatawan akan banyak berkunjung ke daerah ini,” ujar Pangkerego.
Lomba pacu roda sapi, dimana roda sapi ditarik dua ekor sapi yang dikendalikan oleh joki. Untuk menjadi tercepat, bukan ditentukan oleh laju lari sapi, tapi butuh keahlian joki.
Ada lima kelas yang dilombakan, yaitu kelas extra atau kelas pemula untuk 100 meter, kelas pernah pacu untuk 100 meter, kelas 150 meter, kelas 200 meter dan kelas 250 meter atau disebut top kelas.
“Lomba berlangsung selama tiga hari (14-16/10), untuk finalnya, pemenang akan mendapat seekor sapi,” ujar Pangkerego. (robin tanauma)

