Agama dan Pendidikan

AI Ubah Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus, Siswa SLB Kini Belajar Lebih Interaktif

AI Ubah Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus, Siswa SLB Kini Belajar Lebih Interaktif
Abdul Mu’ti bersama para siswa SLB

Editor: Sri Surya

Transformasi digital di dunia pendidikan mulai menghadirkan pengalaman belajar yang lebih inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.

Di SLBN Purwosari Kudus, Jawa Tengah, pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan Interactive Flat Panel (IFP) membuat proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, menyenangkan, dan mudah dipahami.

ADVERTISEMENT

Antusiasme tampak dari para murid saat menyimak video pembelajaran berbasis AI melalui IFP.

Mereka juga belajar membaca buku digital melalui laman budi.kemendikdasmen.go.id, menjawab pertanyaan sederhana, hingga menceritakan kembali isi bacaan yang telah dipelajari.

Guru Kelas Tuli SLBN Purwosari Kudus, Riska Widyanasari, mengatakan penggunaan IFP membawa perubahan signifikan dalam proses belajar mengajar, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila.

Ia memanfaatkan video berbasis AI untuk membantu murid memahami sekaligus mempraktikkan tata cara memberikan hormat kepada Bendera Merah Putih.

Selain itu, media digital juga digunakan untuk melatih kemampuan menyimak dan memahami bacaan melalui buku digital.

“IFP sangat membantu proses pembelajaran, terutama di SLB karena pembelajaran menjadi lebih interaktif, bermakna, dan menyenangkan sesuai dengan tiga prinsip utama Deep Learning. Guru dapat menyajikan gambar, video, dan berbagai aktivitas interaktif yang disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan murid,” ujar Riska, Jumat (31/7/2026).

Menurutnya, perubahan positif terlihat jelas di dalam kelas.

“Murid menjadi lebih aktif berpartisipasi, lebih semangat, lebih fokus, dan lebih mudah memahami materi dibandingkan saat menggunakan media pembelajaran konvensional,” katanya.

Meski demikian, penerapan teknologi di SLB masih menghadapi tantangan. Kemampuan setiap murid dalam menggunakan perangkat digital berbeda-beda sehingga sebagian masih membutuhkan pendampingan lebih intensif.

Untuk mengatasi hal tersebut, Riska menerapkan pendampingan secara bertahap, memanfaatkan tutor teman sebaya, serta memilih media pembelajaran yang sederhana dan mudah dioperasikan agar seluruh murid dapat mengikuti proses belajar dengan baik.

Praktik pembelajaran di SLBN Purwosari Kudus menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas akses pendidikan bermutu melalui transformasi digital.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas, termasuk anak berkebutuhan khusus, anak di wilayah terdepan, terluar, tertinggal (3T), daerah bencana, maupun daerah konflik.

“Pemerintah berkomitmen memberikan layanan pendidikan untuk semua. Salah satu pendekatannya adalah terus mengembangkan pendidikan inklusif agar anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama teman-temannya, tumbuh rasa percaya diri, dan mengembangkan bakat serta potensinya,” ujarnya.

Selain memperluas pendidikan inklusif, pemerintah juga terus memperkuat layanan di Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Layanan pendidikan di SLB akan terus kami tingkatkan, termasuk penambahan satuan pendidikan, agar semakin banyak anak berkebutuhan khusus memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya,” tegas Abdul Mu’ti.

Menurut Kemendikdasmen, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak sekadar menghadirkan perangkat digital di ruang kelas, tetapi menjadi sarana untuk memastikan seluruh anak Indonesia memperoleh kesempatan belajar yang setara, bermakna, dan mampu mengembangkan potensi mereka secara optimal. (***)