
Bitung — Gusti Linggama, warga Lingkungan I RT 002 Girian Permai, Girian, Bitung, ditemukan tewas di atas perahu pajeko KM. Hasil Laut Sejati 01 yang sedang sandar di Pelabuhan Perikani, Bitung, Sabtu (28/12/2019) malam.
Korban merupakan Anak Buah Kapal (ABK) Jaga di kapal tersebut, yang telah bekerja selama 21 hari, sejak 7 Desember lalu.
Informasi yang diterima oleh pemilik kapal, Hengki Rusdy Lumentut, korban dalam keadaan sakit.
Hengki lalu meneruskan informasi tersebut kepada Kapten KM. Hasil Laut Sejati 01, William Mangadil.
Setelah itu Hengki menuju Pelabuhan Perikani, dan mendapati korban telah terbujur kaku di ruangan break KM. Hasil Laut Sejati 01, dimana pada saat yang sama, pihak kepolisian serta warga telah berada di lokasi kejadian.
Hengki mengatakan, selama bekerja di kapal miliknya, korban tidak pernah mengeluh sakit, namun pada Sabtu siang Hengki mendatangi kapal untuk memberikan uang makan dan satu strip obat Supertetra, sesuai pesanan korban.
“Saat itu kondisinya terlihat sehat-sehat,” ujar Hengki.
Sementara itu Kapten KM. Hasil Laut Sejati 01, William Mangadil menambahkan, korban sering mengeluh sakit kepala dan siang sebelumnya korban meminta agar dibelikan minuman bersoda dan roti.
Saat meninggalkan kapal untuk sekitar pukul 14.30 WITA, William menyebut kondisi korban kelihatan baik dan sehat.
“Korban sering mengkonsumsi obat asam urat,” kata William.
Tim Medis RSUD Manembo-nembo yang melakukan pemeriksaan luar terhadap korban, tidak mendapati tanda-tanda kekerasan dan langsung mengevakuasi korban ke rumah sakit tersebut.
Sementara itu, personel Polsek Aertembaga yang melakukan olah TKP, menemukan berbagai macam obat, yakni Neo Napacin, Asam Avenamate, Paracetamol, Antalgin dan Dexametazone.
Dari keterangan sejumlah saksi, termasuk istri korban Ruth Manumpil, korban diketahui memiliki riwayat penyakit asam urat dan sering kambuh.
“Sejak menikah pada 2003, telah menderita asam urat dan kalau kambuh, terlihat seperti orang lumpuh,” tuturnya sedih.
Kasubbag Humas Polres Bitung, Iptu Jeldy Pasulatan membenarkan adanya kejadian tersebut.
“Keluarga korban menolak otopsi, dan kasus ini dalam penyelidikan lebih lanjut,” pungkas Jeldy.
(***/sri)
