
Sriwijaya FC resmi menjadi klub pertama di Pegadaian Championship yang dipastikan terdegradasi ke Liga 3 musim depan. Kepastian itu datang lebih cepat dari jadwal — jauh sebelum kompetisi berakhir.
Angka tak bisa berbohong. Dari 21 pertandingan yang telah dilakoni, SFC hanya mampu mengemas dua poin. Raihan itu menempatkan mereka di dasar klasemen, terbenam sendirian tanpa harapan matematis untuk bangkit.
Secara Matematis, Sriwijaya FC Tak Lagi Bisa Selamat dari Degradasi
Selisih poin yang terlampau jauh dari pesaing di atasnya membuat peluang bertahan resmi tertutup.
Meski memenangkan seluruh sisa laga pun, Laskar Wong Kito tak akan mampu keluar dari zona merah.
Kondisi ini sejatinya sudah terbaca sejak awal musim.
Sriwijaya FC masuk kompetisi dalam kondisi krisis — persiapan yang tidak optimal, persoalan internal yang belum tuntas, dan kedalaman skuad yang jauh dari ideal.
Krisis Lapangan: Gol Minim, Pertahanan Bocor, Kepercayaan Diri Runtuh
Di atas rumput, gambaran Sriwijaya FC sepanjang musim ini cukup memprihatinkan.
Produktivitas gol rendah, lini pertahanan mudah dibobol, dan inkonsistensi permainan mewarnai hampir setiap pertandingan.
Minimnya kemenangan membuat mentalitas tim terus terkikis dari pekan ke pekan.
Sementara klub lain berbenah dan memperkuat komposisi pemain, SFC justru berjibaku dengan keterbatasan yang datang dari dalam.
Ritme persaingan yang semakin ketat di Pegadaian Championship semakin mempertegas jarak antara Sriwijaya FC dengan tim-tim yang mampu bertahan.
Degradasi Jadi Momentum Kebangkitan?
Turun ke Liga 3 adalah pukulan telak bagi klub yang pernah mengukir sejarah gemilang di sepak bola nasional.
Nama Sriwijaya FC identik dengan era keemasan — gelar, prestasi, dan kebanggaan warga Sumatera Selatan.
Namun di balik kepahitan ini, degradasi bisa menjadi titik balik.
Manajemen kini punya ruang — dan kewajiban — untuk melakukan evaluasi menyeluruh, membenahi fondasi klub dari akar, dan merancang ulang visi jangka panjang.
Sriwijaya FC dan Liga 3 mungkin bukan akhir cerita, melainkan awal dari babak yang baru.
Sepak bola Indonesia sudah cukup sering menyaksikan kisah kebangkitan — dan Laskar Wong Kito punya modal sejarah untuk menuliskan satu lagi.
(rds)
