
Penulis: Sri Surya | Manado
Sekolah Khusus Victoria resmi membuka kegiatan belajar perdana di Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, pada Agustus 2026.
Kehadiran sekolah ini menjadi momen penting karena membuka akses pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus di wilayah yang selama ini belum memiliki sekolah khusus.
Langkah tersebut menjadi kelanjutan perjuangan Erna Victoria Noli yang selama lima tahun terakhir mendampingi anak-anak penyandang disabilitas melalui Panti Sosial Disabilitas Victoria.
Kini, pelayanan yang awalnya berfokus pada pengasuhan berkembang menjadi lembaga pendidikan yang terbuka bagi masyarakat.
Peluncuran Sekolah Khusus Victoria dilakukan pada 14 Agustus 2026, sedangkan proses pembelajaran dimulai beberapa hari kemudian.
Saat ini sekolah memiliki tiga guru dan enam peserta didik yang mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Erna mengatakan sekolah ini lahir karena masih banyak anak berkebutuhan khusus di Mandolang yang belum mendapatkan kesempatan bersekolah dan berinteraksi dengan lingkungan pendidikan.
“Motivasi saya untuk melebarkan pelayanan di yayasan kami. Karena sekarang sudah ada panti, dan ingin membangun lembaga pendidikan khusus supaya ada banyak anak-anak lagi yang bisa mengenyam pendidikan berkebutuhan khusus,” ujar Erna.
Ia menuturkan, selama ini banyak anak berkebutuhan khusus lebih banyak berada di rumah bersama orang tua karena belum tersedia sekolah khusus di daerah tersebut.
“Anak-anak masih banyak di rumah bersama orang tua, tidak merasakan bagaimana rasanya sekolah, bagaimana mereka bisa bersosialisasi, bisa belajar. Itu sebabnya saya termotivasi untuk mendirikan sekolah ini,” katanya.
Perjalanan Sekolah Khusus Victoria Berawal dari Panti Sosial Disabilitas
Perjalanan menghadirkan Sekolah Khusus Victoria dimulai pada 2020 ketika Erna bersama suaminya mendirikan Panti Sosial Disabilitas Victoria.
Rumah yang disewa menggunakan dana sertifikasi guru menjadi tempat pertama untuk merawat sekaligus membimbing anak-anak penyandang disabilitas.
Pengalaman sebagai guru di SLB Bartemeus Manado semakin menguatkan tekad Erna untuk mengabdikan diri bagi pendidikan anak berkebutuhan khusus.
“Awalnya hanya dari panggilan hati. Tahun 2020, dengan modal dari sertifikasi guru, saya dan suami menyewa rumah untuk dijadikan panti,” kata Erna.
Panti tersebut berkembang menjadi tempat tinggal sekaligus ruang pembelajaran.
Pada 2025, terdapat 22 anak yang tinggal di Panti Sosial Disabilitas Victoria dan mendapatkan pendidikan serta pembinaan keterampilan hidup.
Menurut Erna, anak-anak di panti tidak hanya belajar pendidikan formal, tetapi juga dibiasakan memasak, merawat diri, membersihkan rumah, dan berbagai keterampilan lain agar mampu hidup mandiri.
“Saya ingin mereka bukan hanya pintar, tetapi juga berkarakter dan bisa mandiri saat tak lagi tinggal di panti, karena mungkin tidak selamanya mereka akan hidup di sini,” ujarnya.
Sekolah Khusus Victoria Fokus pada Akademik dan Life Skill
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, Sekolah Khusus Victoria menggabungkan pembelajaran akademik dengan pengembangan kemampuan fungsional atau life skill.
Erna menjelaskan pengalaman mengajar selama ini akan diterapkan di sekolah yang baru didirikannya.
“Apa yang sudah saya lakukan di sekolah lama, itu pun akan diterapkan di sini. Dan mungkin di sini akan sedikit berbeda dengan sekolah-sekolah lain. Kalau pada umumnya sekolah belajar hanya akademik, tapi kami di sini ada juga kami kembangkan kegiatan-kegiatan fungsional,” katanya.
Sekolah ini juga terbuka untuk anak berkebutuhan khusus dari luar panti.
Saat ini, satu peserta didik berasal dari Tateli, sementara lainnya merupakan anak-anak yang berada di bawah yayasan.
Untuk tahap awal, sekolah menerima peserta didik kategori tunanetra, tunagrahita, dan tunadaksa karena jumlah tenaga pendidik masih terbatas.
“Terbuka untuk umum. Yang penting memiliki kebutuhan khusus. Baik yang ada di anak di panti maupun anak di luar panti, kami buka untuk semua,” ujar Erna.
Rumah Kemandirian Jadi Rencana Besar Yayasan
Erna juga telah menyiapkan rencana jangka panjang bagi yayasan yang dipimpinnya.
Lokasi sekolah saat ini nantinya akan dikembangkan menjadi Rumah Kemandirian, sementara sekolah akan dipindahkan ke tempat yang lebih luas.
Rumah Kemandirian dirancang sebagai pusat pelatihan keterampilan agar anak-anak berkebutuhan khusus memiliki bekal untuk kehidupan mereka di masa depan.
“Jadi tidak cuma sekadar belajar akademik, tapi bagaimana juga mereka punya kemampuan untuk memiliki keterampilan yang nanti dapat mereka pakai untuk masa depan mereka, untuk kehidupan mereka,” ungkap Erna.
Saat ini yayasan juga mulai membangun fondasi ruang kelas baru dan ruang keterampilan.
Pembangunan dilakukan secara bertahap karena seluruh pengembangan masih mengandalkan donasi, sementara lahan sekolah juga masih dalam proses cicilan.
“Tempatnya ini kami masih cicil, belum lunas. Kami beli tapi masih mencicil, masih ada sisa untuk yang harus kami bayar,” katanya.
Meski tantangan terbesar adalah pendanaan, Erna memilih tetap memulai langkah tersebut.
“Tantangannya sebenarnya paling besar itu dana ya. Tapi buat kami itu berkat itu dari Tuhan. Pokoknya yang penting kerja dulu, mulai dulu, lebihnya nanti Tuhan yang sediakan,” tuturnya.
Dedikasi Erna juga dirasakan anak-anak panti.
Anastasia Mamuaya menyebut Erna sebagai sosok orang tua yang mengajarkan kemandirian hingga dirinya berhasil lulus kuliah, sementara Diana Rustiani mengaku kasih sayang dan ketegasan Erna membuatnya tumbuh lebih percaya diri.
Kehadiran Sekolah Khusus Victoria menjadi langkah baru untuk membuka kesempatan pendidikan sekaligus membangun masa depan yang lebih mandiri bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Minahasa.
