
MANADO – Pembangunan di Manado bagian timur terus berkembang. Setelah pelaksanaan WOC dan CTI Summit 2009 lalu ditandai dengan pembangunan fasilitas transportasi dan hotel bertaraf internasional, ruas AA Maramis menjadi target investor untuk berinvestasi.
Salah-satu adalah pembangunan Kawanua City Walk di ruas AA Maramis-Mapanget, perumahan elit dengan fasilitas lengkap seperti pusat perbelanjaan, mall dan fasilitas penunjang lainnya.
Letak Kawanua City Walk disamping Lapangan Golf, sebelumnya di ruas AA Maramis telah ada dua restoran besar yaitu Manado Grand Palace (MGP) dan Nyiur Melambai, juga Hotel Novotel berbintang 5 di kawasan Grand Kawanua.
“Melihat perkembangan kota Manado yang mengarah ke bagian timur dan utara, kedepan ruas AA Maramis akan menjadi kawaan elit selain ruas Boulevard, Samrat dan jalan Sudirman yang sudah lebih dulu ada,” ujar Riany Kapoyos, mahasiswa Unsrat, kepada beritamanado, Selasa (30/11). (JRY)

Saya pikir semuanya baik; mau bikin lapangan golf bertaraf international ok, tapi kita juga harus bikin sarana buat orang orang kecil karena biayanya relatif jauh lebih sedikit.
Saya ada usul: apakah bisa sebagian kecil dari anggaran daerah dipakai untuk bikin fasilitas rakyat umum. contohnya seperti: taman bermain, lapangan basket, lapangan bola yang kecil atau park park seperti yang ada di luar negeri. atau tempat main volley pantai buat umum. Saya pikir banyak lahan yang dipunyai pemda bisa digunakan untuk ini.
Minggu lalu baru lewatin 17 miles nya pebble beach. Memang kalau ada dinegara kita mungkin maintenance-nya akan kalah. Untuk ngurusin lapangan golf begini duitnya harus kencang.
Kita butuh banyak orang seperti Budi Soehardi dan kita butuh pemimpin pemimpin yang handal juga.
saya juga ndak mau berargumentasi terhadap yang cons thdp golf karena memang golf hanya bisa dipahami oleh pegolf itu sendiri dan tokoh2 yang melihat dampak positrif lapangan golf terhadap industri pariwisata khususnya ekonomi regional umumnya. benar….Pariwisata can go on without golf….but without golf a tourism industry would loose its competitivenes….pariwisata boleh exist tanpa lapangan golf….tapi tanpa lapangan golf industri pariwisata kehilangan daya saingnya terhadap daerah lain…..saya justru kagum kepada Alm Gub Worang, yang sudah membangun lpangan golf di tahun 70 an yaitu Lap Golf Wenang sekarang ini….bagi saya, saran saya ke Yth Gub SHS….supaya mendorong peningkatan mutu Lap Golf Wernang…..memang kelihatannya untuk kaum elitis tapi sebetulnya juga “rakyat kecil” akan dapat banyak manfaat lewat “forward and backward linkages effects” dari lap golf itu……..pasti tourist dari Mancanegara yang “gila golf” akan datang ke Sulut ….dan mereka membawa “dollar” dan memberi lapangan pekerjaaan kepada orang orang sulut toch?…..syalom n selamat menyongsong natal….
@rakyat kecil, saya pernah baca tentang Budi Soehardi n nonton videonya di youtube…malele aer mata ..terharu..thanks for sharing..
@Andrei Angouw. Thanks for your argument (dont say you wont argue when you are arguing). A dream is no longer a dream when it comes to reality. Btw, sebenarnya qt cuma pancing tu soal sistem itu…. hehehe…. lucu juga kalo ada yg berpendapat begitu… Anyone without anything can do something for the society. Jadi, it doesnt make sense kalo ada yg blg kalo musti maso sistem dulu…. Nyandak usah belajar pa Schwarzenegger or Zuckenberg or even Obama. Belajar jo pa Budi Soehardi.
@rakyat kecil: sorry, dosn’t wanna argue with you, but I think Mark Zuckerberg will not have done it if he didn’t dream big. You dream first and you take that into action. like Arnold Schwarzenegger said: in body building, first you have to image what your body would be like, then start working on it. Mimpi besar harus dimulai dengan melakukan sesuatu, yaitu masuk didalam sistem. apakah bisa merealisasikan mimpi tersebut, let’s see. Tapi masih lebih baik dari pada hanya mimpi terus dan tidak mau melakukan sesuatu dan membiarkan sistem yang tidak baik berjalan terus.
@ Andrei Angouw, Mark Zuckerberg doesnt only dream. He knows exactly what he’s doing. He has a capability to do that, and it does make him different from a big dreamer. Btw, banyak orang yang suka belagak punya mimpi besar ketika mereka berada di luar ‘sistem’. Padahal ketika berada dalam ‘sistem’, mereka pura2 lupa mimpi itu (atau bahkan tidak berani bermimpi). What kind a person are you, Sir? I will be waiting for your big dreams to come into reality.
@rakyat kecil: I think prof get too emotional when writing his comment. He is a golf enthusiast. Regarding dreaming: Big dreams are big dreams, small dreams are small dreams. in order to reach the big dreams, maybe have to start with small steps. If big dreams have to be started with small dreams, mark zuckerberg, the creators of facebook, wouldn’t have done it at the age of 26.
@Andrei Angouw, there’s nothing wrong with having big dreams. But, just to refresh your memory a bit, every big dreams start with small dreams.
The real problems actually starts when a so called professor in agricultural development economics come up with the statement “Tidak Ada Program Pariwisata yang sukses tanpa lapangan Golf berkelas Internasional”.
tanpa pemikiran besar, tidak akan ada terobosan-terobosan besar dalam dunia ini. tanpa pemikiran besar, belum ada sarana komunikasi seperti yang torang ada sekarang. tanpa pemikiran besar, nyanda ada ini beritamanado.com. tanpa pemikiran-pemikiran besar, torang masih tinggal didalam goa, toki-toki batu. goso-goso kayu for mo beking api. berburu, makan daun-daunan. hidup pemikiran besar!!! THINK BIG!!! ACT BIG!!! BE BIG!!! The bigger the better.
Mengenai lapangan golf, tentu bukan satu-satunya daya tarik pariwisata dan penggerak ekonomi, akan tetapi golf bisa menjadi tujuan wisata dan penggerak ekonomi. Banyak tempat di dunia ini yang mengunakan golf sebagai daya tarik pariwisata. Contoh: Kunming di china, peeble beach di california, hawai, dsb. kalau pariwisata golf maju, berapa banyak karyawan di lapangan golf tersebut yang akan mendapat bagian dari uang para wisatawan yang datang untuk golf? Golf merupakan failitas pariwisata dan olah raga. nothing wrong with that right?
Jaka Sembung naik ojek, ga nyambung jack !!! Jang taru kira ksiang, prof :P
Biar jo tetap jadi orang kecil dengan mimpi yg kecil tapi sejahtera, ketimbang menjadi orang besar dengan mimpi yang terlalu besar sampai2 melupakan bahwa bumi ini didiami oleh berbagai macam manusia dengan segala macam tingkatan hidup. Kalo Prof memang benar2 ahli di bidangnya, pasti ide lapangan golf nyandak akan bakalan beliau pertahankan seolah2 ini akan otomatis meningkatkan taraf hidup masyarakat Sulut.
kapan mo jadi ‘orang besar’ kalo bapikir sempit? percuma Prof., mokase ide2 pa orang2 yang cuma bapikir for diri sandiri n hari ini nda pikir jangka panjang, nyanda tasambung tu cerita…, Ignore jo Prof., soalnya bukan Prof pe level. iyo toh. Maju terus Prof dengan ideas yang cemerlang untuk SULUT!
@prof: yg torang perlu itu lapangan pekerjaan bukan lapangan golf..oi to po???
Kayaknya sampai sekarang saya belum pernah dengar ada teman2 saya mau mengunjungi satu daerah dengan tujuan main golf atau berwisata ke padang golf. Mungkin karena teman2 saya bukan pemain golf seperti Prof yah?
@Prof Sondakh,
Tidak selamanya pariwisata itu akan maju kalo ada lapangan golf!
Buktinya, coba lihat negara2 tetangga kita: Singapura, Australia, dll.. pariwisata di negara2 itu sangat maju, sekalipun tanpa lapangan golf.
Di Australia, batu pun bisa jadi objek wisata.
Tidak semua orang yg berwisata itu butuh lapangan golf, Prof!
Semua itu tergantung pada manajemen pariwisata, termasuk di dalamnya perbaikan birokrasi dan prosedur bea cukai.
Janganlah kita hanya melihat masyarakat wisatawan itu menurut ‘pandangan’ atau ‘level’ kita.
Dan satu lagi, berwisata itu BUKAN cuma milik orang kaya (berduit) seperti Prof Sondakh! Orang miskin pun punya hak yang sama untuk menikmati obyek wisata, sesuai kemampuan mereka tentunya!
Jadi, buat kebijakan yang berpihak pada SELURUH LAPISAN MASYARAKAT, dan BUKAN hanya BERPIHAK PADA ORANG BERDUIT!!!
Butuul skali….itu lapangan golf yang saya usulkan…bukan menggunakan lahan rakyat kecil…tapi meningkatkan mutu Lapangan Golf yang sudah ada yang sudah dibangun sejak Gubernuir Worang…sayang kalau anda lihat…Lapangan Golf sekarang ini sudah seperti Padang Rumput….dan sudah robah “bentang alam”….Pastinya…Tidak Ada Program Pariwisata yang sukses tanpa lapangan Golf berkelas Internasional. ..Bicara Manado sebagai Kota Pariwisata Dunia tanpa Lapangan Golf berkelas itu “nonsense”. Bicara Sulut sebagai Pintu Gerbang Ekonomi ke Pacifik tanpa Lapangan Golf sama aja “boong”….Pemenang Nobel Yan Tindbergen mengatakan: Kalau Anda mempunyai Dua Tujuan, anda harus mempunyai paling kurang dua atrategi/alat. TujuanKemajuan Pawrisata…ya Harus lapangan Golf. Tujuan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat yah prioritaskan pembangunan pedesaan/pertanian/agro industri. …Syalom dan selamat menyongsong Natal. Lucky Sondakh (Agric Dev Economist).
orang besar kalo mimpi memang gak tanggung2….
mudah2an mereka masih ingat bahwa segala macam kawasan elit, lapangan golf berskala internasional, dll akan lebih mempertegas jurang antara si kaya dan miskin….
tapi kalo itu yg mereka impikan buat sulut, let the dream continue….
Dengan adanya Kawanua City Walk….Manado akan makin menonjol di Kawasan Timur Indonesia…..tapi sayang…perencana Kawanua City Walk sepertinya kurang memahami Peran Strategis dari Sebuah Lapangan Golf dalam Meningkatkan Industri Pariwisata….Saran Saya…segera dipeluas Lapangan Golf Wenhang yang skarang baru sembilan holes menjadi 18 holes…pasti akan berdatangan pegolders di Kawasan Pacific ke Manado…Impian SHS agar Sulut jadi A Center of Regional Develoipment di Pacifik…menurut saya mulailah dulu dengan membangun Lapangan Golf berkelas Internasional….kalau perlu bukan cuma di Manado tapi di Amurang (usul untuk Bupati Tetty Paruntu) atau di Kanonang (Sekitrar Bukit Kasih)…Ayo…Let Us Keep Dreaming kan?….