
Puluhan Mahasiswa Indonesia yang berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB) berkesempatan menjajaki teknologi ramah lingkungan tingkat tinggi langsung di Tiongkok. Sebanyak 26 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan anggota fakultas tersebut mengikuti program International Summer Camp on Chemical Engineering for a Sustainable Future selama dua pekan di Universitas Tianjin.
Pengalaman berharga ini membuka mata para akademisi muda tanah air mengenai penerapan teknologi hijau yang sangat relevan dengan kebutuhan transisi energi bersih di Indonesia saat ini.
Di dalam laboratorium Fakultas Teknik Kimia dan Teknologi Universitas Tianjin, para Mahasiswa Indonesia berkesempatan mempelajari secara langsung instrumen laboratorium modern, mulai dari sistem kromatografi gas otomatis hingga platform eksperimen pintar berbasis simulasi virtual dan kecerdasan buatan (AI).
Salah satu peserta, Putu Pradnya Paramita Wibawa, mengaku sangat kagum dengan kecanggihan fasilitas yang disediakan. Mahasiswa tingkat tiga yang fokus pada penelitian katalis tersebut menuturkan keunggulannya dibandingkan peralatan yang biasa ia gunakan.
“Di ITB, alat kromatografi gas kami masih sebagian besar dioperasikan secara manual. Di sini, sistem injeksi sampel otomatis, berbagai macam reaktor, dan platform yang sepenuhnya terdigitalisasi benar-benar membuat saya kagum. Saya sangat ingin mendapatkan kesempatan untuk belajar dengan peralatan seperti ini,” katanya.
Kesan mendalam juga dirasakan oleh Albert Jhonatan Wellson Sinaga, mahasiswa tingkat dua ITB. Albert menjajal sistem laboratorium pintar jarak jauh yang dilengkapi evaluasi otomatis berbasis AI.
“Anda dapat menyimulasikan seluruh proses eksperimental melalui komputer tanpa perlu khawatir melakukan kesalahan dalam pengoperasian aktual. Cara pembelajaran seperti ini benar-benar baru bagi saya,” tuturnya.
Ia pun berharap program pertukaran ini tidak berhenti di sini dan dapat terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.
Terobosan Teknologi Ramah Lingkungan untuk Transisi Energi
Selama program intensif tersebut, para peserta mengikuti delapan materi kuliah mutakhir, pengujian laboratorium, hingga kunjungan ke kawasan industri strategis. Topik yang dipelajari mencakup penangkapan karbon (carbon capture), katalisis energi hidrogen, hingga pemisahan membran yang semuanya mendukung pencapaian target karbon ganda (Dual Carbon) Tiongkok sekaligus sejalan dengan agenda penurunan emisi karbon di Indonesia.
Tak hanya teori, kolaborasi emosional dan aplikatif juga terjalin lewat kompetisi Chem-E-Car. Mahasiswa Indonesia dan Tiongkok berkolaborasi merancang mobil miniatur yang digerakkan oleh reaksi kimia bebas emisi karbon.
“Sebelumnya, saya hanya mempelajari kinetika reaksi dari buku teks. Baru setelah mempraktikkannya sendiri, saya menyadari betapa pentingnya kontrol parameter. Perpaduan antara teknik kimia dan kontrol otomatis sangat menarik,” kata seorang mahasiswa Indonesia.
Kunjungan ke Institut Riset Industri Kimia Huanghai milik Tianjin Bohai Chemical Industry Group makin melengkapi wawasan mereka. Di sana, rombongan ITB menyaksikan transformasi industri Tiongkok dari produksi abu soda tradisional menuju bahan bakar penerbangan berkelanjutan, baterai ion seng, dan resin transparan.
Sinergi Pendidikan Akademis Indonesia dan Tiongkok
Kolaborasi erat ini berawal dari kunjungan delegasi dekan ITB ke Universitas Tianjin pada awal 2026. Penandatanganan kerja sama tingkat fakultas dan pertukaran mahasiswa pun bergerak cepat hanya dalam hitungan bulan.
Wakil Dekan Fakultas Teknik Kimia dan Teknologi Universitas Tianjin, Wang Jun, menjelaskan bahwa jurusan teknik kimia di kampusnya telah terakreditasi internasional oleh Institution of Chemical Engineers (IChemE).
“Sebagai salah satu jurusan teknik kimia terkemuka di Tiongkok, kami memiliki tanggung jawab untuk berbagi sumber daya pendidikan berkualitas tinggi, berkontribusi pada kerja sama Sabuk dan Jalur Sutra, serta menghadirkan keahlian Tiongkok bagi pembangunan hijau dan berkelanjutan di dunia,” kata Wang.
Saat ini, kedua belah pihak telah merampungkan pembahasan program kerja sama baru dan mulai menghubungkan tim peneliti. ITB bahkan mengundang balik staf pengajar dan Mahasiswa Indonesia agar siap menyambut delegasi Tiongkok pada kamp musim panas berikutnya di Indonesia.
Pejabat fakultas Universitas Tianjin, Wang Huaiyuan, menambahkan bahwa agenda ini melampaui transfer ilmu pengetahuan semata.
“Pembangunan hijau dan berkelanjutan merupakan tujuan bersama para profesional teknik kimia di kedua negara,” kata Wang Huaiyuan. Ia menegaskan bahwa kedatangan akademisi muda ini turut membangun jembatan persahabatan antarmasyarakat kedua negara.
Momen berharga ini membuktikan bahwa langkah nyata Mahasiswa Indonesia dalam menguasai teknologi hijau siap membawa perubahan besar bagi masa depan Indonesia.
Sumber: Kantor Berita Xinhua | Dipublikasikan atas kerja sama dengan BeritaManado.com.
