Berita Utama

Lansia Asal Desa Wusa Terjepit Stigma COVID-19

Akibat berminggu-minggu diperlakukan tak adil, Simon kemudian mendapat ide membuat baliho dan digantung di teras rumah.

Isinya berupa peringatan agar masyarakat yang tidak mempunyai surat kesehatan dari dokter tidak boleh masuk ke rumahnya.

“Saya terlanjur sakit hati diperlakukan begini. Waktu istri saya positif, diumumkan kemana-mana bahkan sampai pakai pengeras suara. Saat saya negatif, tidak diumumkan. Saya ingin bilang kalau saya ini sehat dan ada bukti surat pemeriksaan kesehatan. Orang lain belum tentu terlihat sehat lalu benar-benar sehat,” tambah Simon.

Kisah Simon hanya satu dari ratusan jeritan warga lain yang terjepit stigma COVID-19.

Pun berlaku bagi para tenaga kesehatan, yang terpaksa harus “mengungsi” menjauh dari warga dan keluarga.

Jangankan berstatus OPD dan Kontak Erat Resiko Tinggi (KERT), sudah jadi mayat pun tetap ditolak.

Hal ini membuat Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pun menyiapkan sejumlah lokasi sebagai rumah singgah bagi Orang Dalam Pengawasan (ODP).

Karo Pemerintahan Jemmy Kumendong mengatakan, sedikitnya sudah ada 766 kamar disiapkan sebagai lokasi karantina bagi setiap ODP di Sulut.

Jemmy merincikan lokasi rumah singgah tersebut rata-rata meminjam gedung-gedung pemerintah, diantaranya Kantor Penanggulangan Krisis Kesehatan di Teterusan Kota Manado (30 tempat tidur), Kantor Diklat Maumbi Kabupaten Minahasa Utara (100 tempat tidur), Kantor Bapelkes di Malalayang Kota Manado (270 tempat tidur), asrama haji di Tuminting Kota Manado (300 tempat tidur), RSUD Bitung (20 tempat tidur ruang khusus isolasi), Lembaga Pengembangan Mutu Pendidikan (eks BPG) di Pineleng Kabupaten Minahasa (40 tempat tidur belum termasuk kamar ber-AC), dan RSUD Noongan Kabupaten Minahasa (6 tempat tidur ruang khusus isolasi).

“OPD diisolasi disitu,” ujar Jemmy Kumendong.

Sementara, Karo Umum Pemprov Sulut Clay Dondokambey menghimbau agar masyarakat tidak memberi stigma negatif pada mereka yang positif terpapar virus corona.

Melalui media sosial, pemerintah mengkampanyekan gerakan untuk meniadakan lagi stigma buruk kepada pasien terkait virus corona, baik itu berstatus orang dalam pemantauan (ODP) maupun pasien dalam pengawasan (PDP) dan tentunya tenaga medis.

“Pasien positif corona bukan aib, apalagi baru ODP. Bayangkan kalo yang sakit itu adalah kita? Mari kita saling mendukung dan menyemangati. Lawan virusnya, bukan orangnya,” pesan Clay.

(Finda Muhtar)

Baca Juga:

Pemkab Minut Kelabakan Tangani 1 Pasien COVID-19, Jenazah Sempat Terlantar

Kabar Duka, Pasien Positif COVID-19 Asal Minut Meninggal Dunia

Update COVID-19 di Sulut: 23 Mei, Bertambah 3 Kasus Positif

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara