Nasional

IDC 2025: Media Bongkar Resep Raih Cuan Miliaran di Tengah Gempuran AI

Di sisi lain, nilai pasarnya terus meningkat. Tahun 2030 diperkirakan nilai pasar kreator konten mencapai sekitar Rp7 triliun.

“Ini juga merupakan peluang bagi media,” kata Hana.

Personal Branding Jadi Senjata

CEO Berita Jatim Dwi Eko Lokononto mengatakan menjalankan bisnis media juga harus diimbangi dengan membangun personal brand awak medianya.

Hal ini diperlukan untuk membangun kepercayaan publik terhadap media. Selama ini Berita Jatim tidak memanfaatkan google adsense dalam bisnisnya.

“Kami tidak mengerti SEO (search engine optimization), kami tidak tahu ini bisa menghasilkan pendapatan,” ujarnya.

Meski begitu, pendapatan iklan dan kerja sama Berita Jatim cukup besar di Jawa Timur. Ini karena kekuatan brand produk, pimpinan, dan awak medianya.

“Kami punya jasa konsultasi, event organizer, survei, dan beberapa pekerjaan komunikasi lainnya,” ujarnya.

Omzet Meroket 1.000 Persen Berkat AI

Berbeda dengan Berita Jatim, Serayunews sudah berhasil memanfaatkan AI dalam bisnisnya.

Menurut CEO Serayunews Galih Wijaya, AI bukanlah ancaman. Bahkan media mereka mampu memanfaatkan AI untuk membuat pertumbuhan bisnisnya lebih cepat dan efisien.

AI juga membuka peluang sumber revenue baru di bisnis Serayu News. Mereka melakukan diversifikasi model bisnis dengan memonetisasi konten dan data dengan bantuan AI.

AI digunakan untuk membuat konten sponsor dan institusi. Mereka juga membuka bisnis pelatihan menggunakan AI untuk perusahaan dan institusi pemerintah.

“AI membawa Serayunews mengalami kenaikan omzet lebih dari 1.000 persen dari tahun sebelumnya. Biaya produksi pun menurun 25 persen dan terus turun,” kata Galih.

Media lokal berbasis di Purwokerto, Jawa Tengah ini mengadopsi AI untuk banyak hal, salah satunya optimalisasi konten.

AI juga dimanfaatkan untuk menganalisis tren isu lokal, optimalisasi website di mesin pencari (SEO), serta membuka peluang kolaborasi dengan media lokal di seluruh Indonesia.

Diversifikasi Bisnis ala Tempo

Direktur Tempo Institute Qaris Tajudin mengatakan, untuk bisa survive, Tempo juga membangun bisnis yang beragam.

Penghasilan utama memang dari media, tapi biaya media juga lebih besar.

“Kami punya bisnis lain seperti pendidikan, data science, event, Tempo TV, dan semuanya memberikan revenue terhadap bisnis Tempo,” ujarnya.

Dia menceritakan pengalaman Tempo yang sudah dua tahun ini membuat program Independent Media Accelerator untuk mencari sumber pendapatan baru bisnis media.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara