
Manado, BeritaManado.com – Upaya pencegahan dan manajemen penyakit kronik di tingkat komunitas mendapatkan inovasi segar.
Sebanyak 40 kader Posyandu dari Puskesmas Bailang, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, berhasil merampungkan program unggulan yang memadukan kearifan lokal Minahasa dan teknologi digital, bertajuk EPIK-BuLo.
EPIK-BuLo, singkatan dari Edukasi dan Pelatihan Kader Posyandu pada Manajemen Penyakit Kronik Berbasis Budaya Lokal, adalah inisiatif yang didukung penuh oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Program ini dipandu oleh tim pengabdian dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado yang diketuai oleh Suharno Usman, dengan anggota tim pelaksana Maria Heny Pratiknjo, Muhamad Nurmansyah, dan tim dari mahasiswa.
Sentuhan Budaya Minahasa
Keunikan utama program ini terletak pada penggunaan pendekatan budaya lokal sebagai pintu masuk edukasi kesehatan.
Nilai-nilai filosofis Minahasa seperti Mapalus (gotong-royong), Sitou Timou Tumou Tou (memanusiakan manusia lain), serta praktik tradisional seperti bakera (terapi uap), bahkan kebiasaan konsumsi cap tikus (minuman beralkohol tradisional), diintegrasikan dalam materi pelatihan.
“Dengan mengangkat budaya lokal dan menggabungkannya dengan teknologi, edukasi kesehatan jadi lebih mudah diterima dan berdaya di komunitas,” jelas Suharno Usman, Ketua Tim Pengabdian Unsrat.
Pendekatan ini bertujuan agar pesan-pesan pencegahan penyakit kronik, seperti diabetes dan hipertensi, lebih cepat meresap di masyarakat.
Peningkatan Kompetensi
Program yang berlangsung intensif sejak Agustus hingga November 2025 ini telah menunjukkan hasil menggembirakan.
Evaluasi pasca pelatihan mencatat peningkatan signifikan dalam kompetensi kader.
Pemahaman Budaya dan Kesehatan naik tajam dari 69,5 persen menjadi 84,2 persen (peningkatan 14,7 persen).
Keterampilan Berbasis Budaya juga melonjak dari 70,1 persen menjadi 85,6 persen (peningkatan 15,5 persen).
Selain peningkatan kapasitas manual, kader juga bertransformasi menjadi kader digital.
Mereka kini aktif dalam jaringan komunikasi melalui grup WhatsApp, melakukan pelaporan daring, dan menggunakan aplikasi “Sehati” untuk pencatatan mandiri faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) di wilayah kerja mereka.
Setelah melalui tahapan sosialisasi, pelatihan menyeluruh pada 30 September dan 31 Oktober, serta pelaksanaan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) pada 5 dan 8 November, program ditutup dengan penyerahan aset edukasi, termasuk handbook, media digital, dan aplikasi “Sehati” pada 10 November lalu.
Model EPIK-BuLo yang melibatkan kolaborasi lintas sektor, antara kader, Puskesmas, dan Pemerintah Kelurahan ini, kini diharapkan menjadi inspirasi untuk direplikasi di wilayah lain.
Hal ini diyakini dapat memperkuat sistem deteksi dini dan manajemen penyakit kronik yang efektif dan berbasis komunitas.
(***/jenlywenur)
