Berita Utama

Cegah Konflik: Ormas Pemuda Diingatkan Jaga Independensi, Jangan Dimanfaatkan Kepentingan Elektoral

Cegah Konflik: Ormas Pemuda Diingatkan Jaga Independensi, Jangan Dimanfaatkan Kepentingan Elektoral
Akademisi Unsrat, Dr Ferry Liando, nara sumber di Seminar Kepemudaan di Hotel GrandPuri Manado, Selasa (2/12/2025), memaparkan materi bertajuk “Konsolidasi dan Integrasi Organisasi Kepemudaan.”

Manado, BeritaManado.com – Organisasi kemasyarakatan (Ormas) kepemudaan saat ini dinilai tengah mengalami kemerosotan nilai juang dan menghadapi tiga krisis utama yang harus segera diselesaikan.

Salah satu pemicu utamanya adalah praktik pemanfaatan organisasi untuk kepentingan politik elektoral, yang berujung pada konflik berkepanjangan dan memudarnya kepedulian terhadap isu kepemudaan.

Hal ini disampaikan oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISP) Unsrat, Dr Ferry Daud Liando, saat menjadi narasumber dalam Seminar Kepemudaan yang diselenggarakan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) di Hotel GrandPuri Manado, Selasa (2/12/2025).

Dalam paparannya bertajuk “Konsolidasi dan Integrasi Organisasi Kepemudaan,” Liando memaparkan tiga persoalan krusial yang melanda ormas pemuda saat ini:

  1. Krisis Dualisme dan Konflik Politik

Menurut Liando, krisis pertama yang paling menonjol adalah dualisme atau kegandaan kepengurusan yang sulit diselesaikan.

Konflik ini dipicu oleh perbedaan dukungan politik terhadap kontestan, baik dalam pemilihan umum (Pemilu) maupun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

“Perbedaan dukungan ini menyebabkan terjadi friksi-friksi dalam tubuh organisasi. Dampak atas semua itu terjadi tarik-menarik kepengurusan baik dalam kontestasi musyawarah nasional ataupun daerah, di mana masing-masing kubu mengamankan gerbong afiliasi politik,” ungkapnya.

  1. Melemahnya Kontribusi Publik

Krisis kedua adalah melemahnya kontribusi ormas kepemudaan, bahkan nyaris tidak ada sama sekali, baik dalam pengembangan dan pemberdayaan pemuda maupun dalam perumusan kebijakan publik.

“Tidak banyak lagi ormas kepemudaan yang memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap masalah-masalah kemasyarakatan,” tegas Liando, menyoroti memudarnya peran sebagai pengawal nasib kepemudaan.

  1. Minat Pemuda Berorganisasi yang Menurun

Krisis terakhir adalah semakin banyaknya pemuda yang tidak tertarik untuk terlibat dan terdaftar dalam ormas kepemudaan

Liando menjelaskan bahwa perkembangan teknologi yang pesat telah mengambil alih peran ormas di masa lalu.

“Sebelum teknologi berkembang, peran ini banyak dilakukan oleh ormas kepemudaan. Pemuda yang aktif dalam ormas di masa lalu, ternyata sebagian besar menjadi pemimpin-pemimpin yang berhasil di kemudian hari,” jelasnya.

Saat ini, teknologi telah menjadi sumber utama ilmu pengetahuan, pengembangan keterampilan, dan membuka akses hubungan sosial yang lebih luas.

Konflik yang berkepanjangan ini tak hanya merusak institusi, tetapi juga menimbulkan trauma yang menyebabkan pemuda enggan bergabung.

Solusi: Independensi dan Tanpa Afiliasi Politik

Untuk mengatasi ketiga masalah tersebut, Liando menekankan bahwa organisasi harus menkonsolidasikan diri dengan cara memperkuat institusi.

Ia menegaskan agar urusan ormas kepemudaan harus terputus dari organisasi politik, sehingga kompetisi politik antar partai tidak menjadikan ormas sebagai arena kepentingan.

“Ormas kepemudaan harusnya tetap sebagai lembaga mandiri dan independen,” pungkasnya.

Liando menambahkan, jika ada oknum pengurus yang sudah berafiliasi dengan partai politik, mereka harus mengundurkan diri dari kepengurusan ormas secara gentle agar organisasi tidak dimanfaatkan untuk kepentingan politik elektoral.

BeritaManado.com: Berita Terkini Kota Manado, Sulawesi Utara