
BITUNG — TNI Angkatan Laut (AL) mengakui jika armada yang dimilikinya untuk melakukan pengamanan laut sangat minim. Terutama armada kapal perang yang ditempatkan di seputar perairan perbatasan seperti wilayah laut kota Bitung dianggap sangat terbatas. Hal ini diungkapkan Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) VIII Manado, Laksaman Pertama TNI Sugianto, Rabu (13/7), ketika usai menyaksikan parade Kadet AAL KRI Dewaruci di depan kantor walikota Bitung.
“Saat ini sudah ada tiga armada yang kita tempatkan di kota Bitung dan itu sangat jauh dari maksimal untuk melakukan pengamanan. Tapi kita tetap optimalkan fasilitas yang ada untuk melakukan pengamanan laut,” kata Sugianto.
Menurut Sugianto, penempatan tiga armada kapal perang di wilayah kota Bitung untuk mengoptimalkan pengamanan di sejumlah wilayah perbatasan. Seperti di wilayah Sangihe, karena sumber daya ikan yang dimiliki bangsa Indonesia terutama wilayah bagian timur direbutkan oleh oknum tak bertanggung jawab yang seharusnya dimanfaatkan demi kesejahteraan rakyat Indonesia khususnya Sulut.
“Apalagi saat ini saya mendapat informasi jika bahan baku ikan dalam beberapa bulan ini mulai berkurang masuk kota Bitung dan kita mencurigai ini akibat praktik illegal fishing,” tambah Sugianto.
Lebih lanjut Sugianto mengatakan, tiga armada TNI AL ini dikerahkan serta didukung kapal-kapal cepat berukuran sedang guna meminimalisir terjadinya illegal fishing di perairan Laut Maluku, Sulawesi, Laut Pacifik sekaligus mencegah adanya sistem barter komoditi ikan di jalur perbatasan. Dimana ketiga armada tersebut kini berpangkalan di Gorontalo, Tarakan, Nunukan, Tolitoli dan kota Bitung untuk berpatroli sesuai jadwal yang telah di tentukan.
“Kami juga meminta bantuan setiap stakeholder perikanan agar diharapkan segera berperan agar masyarakat pesisir dan nelayan mendapatkan kelayakan hidup secara dinamis dengan kebutuhan ikan yang mencukupi,” pungkasnya. (en)
