Bolmong Raya

TBM di SKB Jadilah Sumber Referensi Dalam Penguatan Gerakan Literasi di Masyarakat

Boroko, BeritaManado.com – Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Satuan Pendidikan Nonformal (SPNF) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) memiliki peran penting dalam mengembangkan referensi dalam penguatan gerakan literasi di masyarakat.

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sulha Mokodompis saat membuka workshop penguatan pengelolaan TBM di SPNF SKB Bintauana, Kamis (2/9/2021).

“SKB diharapkan secara mandiri memformulasikan perencenaan, pengelolaan, serta pengembangan kegiatan dan layanan TBM, sehingga TBM di SKB dapat berkembang menjadi sumber referensi dalam penguatan gerakan literasi di masyarakat,” kata Kadis Dikbud Sulha Mokodompis.

ADVERTISEMENT

Dijelaskan Sulha, pembukaan kegiatan workshop penguatan pengelolaan TBM SPNF SKB Bintauna sebagai program layanan informasi pengetahuan dan sebagai tempat belajar Masyarakat.

“Seiring dengan perubahan sistem otonomi pemerintahan, keberadaan SKB sebagai UPTD berubah fungsinnya menjadi satuan pendidikan non formal melalui peraturan menteri dab kebudayaan nomor 04 tahun 2016 tentang ahli fungsi SKB.

Diuraikan Sulha, sampai dengan tahun 2020 terdapat 432 SKB yang sudah beralih fungsi yang di SK kan langsung oleh kepala daerahnya sebagai SPNF.

“Sebagai satu-satunya SPNF milik pemerintah SKB perlu didorong dan difasilitasi supaya menjadi SPNF yang dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan layanan pendidikan non formal yang berkualitaa,” jelasnya.

Menurut Sulha, salah satu program pendidikan non formal yang sudah trend adalah pendidikan keaksaraan dab pengembangan budaya baca atau literasi melalui kegiatan TBM.

“Namun TBM di SKB belum banyak dimanfaatjan secara optimal, bahkan masih banyak SKB yang belum memiliki layanan TBM,” tambahnya.

Selain itu, lanjutnya, layanan TBM ada pun yang belum optimal dalam memotivasi masyarakat atau peserta didik program pendidikan masyarakat untuk mempunyai kebiasaan membaca.

Bahkan TBM di SKB disinyalir sebatas berfungsi sebagai gudang buku atau bahkan bacaan.

“Direktorat pendidikan masyarakat dab pendidikab khusus telah berupaya memberikan dorongan dan fasilitasi terhadap penguatan kompetisi SDM dan pengelolaan layanan TBM di SKB melalui bantuan pemerintah untuk penyelenggaraan workshop penguatan TBM di SKB,” sebutnya.

Tujuan dari workshop kemudian dituangkan dalam beberpa poin, diantaranya:

1) Mensosialisasikan kebijakan pendidikan keaksaraan dan budaya baca atau literasi kepada seluruh pengelola TBM/pengiat di wilayah.

2) Meningkatkan spirit dan krativitas pengembangan kegiatan literasi masyarajat melalui TBM.

3) Membangun jejarinf kekrja sama dan komunitas antar pengelola TBM di tingkat Kabupaten/kota agar terbentuk komunitas literasi yang memberdayakan.

Hasil yang diharapkan dari workshop penguatan TBM SPNF Bintauna adalah:

1) Tersosialisasikannya kebijakan pendidikan keaksaraan dan budaya baca atau leterasi kepada seluruh pengelola TBM/pengiata di wilayah kabupaten/kota.

2) Meningkatkan spirit dan kreativitas pengembangan kegiatan literasi masyarakat melalui TBM di tingkat Kabupaten/kota.

3) Adanya jejaring kerja sama dan komunitas antar pengelola TBM agar yerbentuk komunitas literasi yang saling memberdayakan.

“Dikbud akan terus mendukung penuh pelaksanaan workshop penguatan pengelolaan TBM SPNF SKB Bintauna,” tutup Kadis.

Peserta pada kegiatan itu terdiri dari Pamong Belajar, tutor keaksaraan, tutor kesetaraan, pendidik, budayawan muda, pegiat kampung literasi, pustakawan desa.

(Nofriandi Van Gobel)