BITUNG — Kelangkaan tabung gas ukuran 12 kilogram (Kg) di kota Bitung dalam beberapa hari ini langsung mendapat respon dari Pemkot Bitung. Buktinya, menurut Kaban Perekonomian Kota Bitung, Oktaf Kandoli pihaknya akan menelusuri penyebab kelangkaan tersebut. Dimana pihaknya akan melakukan pengecekan ke sejumlah industri dan Depot Pertamina Bitung serta dua agen yang dipercayakan sebagai penyalur elpiji.
“Kalau elpiji sendiri mulai langka, ini sangat mengherankan. Kalau betul
terjadi, ada apa dibalik itu. Karena itu kami akan mengeceknya ke Pertamina dan para agen juga ke industri,” ujar Kandoli, Selasa (12/7).
Kandoli sendiri menyatakan keprihatinan atas apa yang dialami sejumlah industri yang sangat membutuhkan elpiji 12 kg yang ternyata mulai sulit didapatkan. Belum lagi harga yang dianggap jauh lebih tinggi dari Harga Eceran Tertinggi (HET) secara nasional yang hanya Rp70 ribu.
“Harga elpiji di kota Bitung terbilang sangat tinggi yakni Rp122 ribu sampai
Rp130 ribu yang berarti dua kali dari harga HET nasional yang hanya Rp70 ribu per tabung,” tambah Kandoli.
Kandoli sendiri mengkuatirkan, kelangkaan elpiji 12 kg itu dapat merembes ke elpiji ukuran 3 kg yang diperuntukan bagi rumah tangga. Apalagi menurut Kandoli, saat ini Pertamina bersama Pemkot Bitung sedang mendistribusi penggunaan elpiji untuk rumah tangga dengan ukuran 3 kg.
“Ini memang sudah cukup banyak dipertanyakan dan dikeluhkan karena harganya cukup tinggi mencapai Rp125 ribu per tabung, nah hal itu perlu dipertanyakan ke Pertamina,” pungkasnya. (en)
